Rabu, 3 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Harga Perak

Harga Perak Rabu 14 Januari 2026, Tembus Rekor Tertinggi Sepanjang Masa, Dijual Segini per Ons

Rabu (14/1/2026), harga perak sempat melonjak hingga 5,3 persen dan menyentuh 91,5535 dollar AS per ons.

Tayang:
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Gryfid Talumedun
Tribun Manado/Gryfid Joysman
UPDATE - Harga Perak Rabu 14 Januari 2026, Tembus Rekor Tertinggi Sepanjang Masa, Dijual Segini per Ons. Harga perak mencetak sejarah baru setelah untuk pertama kalinya menembus level 90 dollar AS per ons, menandai lonjakan signifikan di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. 

Ringkasan Berita:
  • Harga perak menembus rekor baru di atas 90 dolar AS per ons.
  • Sementara emas bergerak mendekati rekor tertinggi sepanjang masa, didorong lonjakan permintaan aset lindung nilai.
  • Reli logam mulia dipicu tekanan terhadap The Fed, ekspektasi lanjutan pemangkasan suku bunga AS.
  • Investor terus beralih ke komoditas, khususnya perak, dengan proyeksi harga yang lebih tinggi ke depan seiring ketatnya pasokan, potensi tarif AS, dan meningkatnya minat spekulatif global.

 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Pasar logam mulia kembali bergolak.

Harga perak mencetak sejarah baru setelah untuk pertama kalinya menembus level 90 dollar AS per ons, menandai lonjakan signifikan di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.

Pada saat yang sama, harga emas kembali merangsek naik dan mendekati rekor tertinggi sepanjang masa, mempertegas status logam mulia sebagai aset lindung nilai favorit investor.

Dikutip dari Bloomberg, Rabu (14/1/2026), harga perak sempat melonjak hingga 5,3 persen dan menyentuh level 91,5535 dollar AS per ons.

Baca juga: Harga Emas Hari Ini Rabu 14 Januari 2026

Lonjakan ini menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah perdagangan perak di pasar global.

Sementara itu, harga emas bergerak hanya kurang dari 10 dollar AS dari rekor tertinggi sepanjang masa, seiring derasnya arus investasi ke aset safe haven.

Reli logam mulia ini dipicu oleh meningkatnya tekanan terhadap Federal Reserve (The Fed), ekspektasi lanjutan pemangkasan suku bunga di Amerika Serikat, serta ketegangan geopolitik global yang belum mereda.

Inflasi AS dan Arah Kebijakan The Fed

Inflasi inti AS pada Desember 2025 tercatat tidak setinggi yang dikhawatirkan. 

Namun, para ekonom menilai data tersebut tertekan secara artifisial akibat penutupan pemerintahan AS yang berlangsung paling lama dalam sejarah.

The Fed diperkirakan akan menahan pemangkasan suku bunga selama beberapa bulan ke depan.

Meski demikian, pasar swap memperkirakan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga tambahan masih berpotensi terjadi hingga akhir tahun ini.

Kekhawatiran atas Independensi Bank Sentral

Reli logam mulia juga dipicu oleh kekhawatiran terhadap independensi bank sentral, menyusul prospek dakwaan pidana terhadap Ketua The Fed Jerome Powell.

Sejumlah bank sentral dunia menyatakan dukungan terhadap Powell. CEO JPMorgan Chase & Co. Jamie Dimon memperingatkan bahwa langkah tersebut justru berpotensi berdampak berlawanan.

Permintaan aset lindung nilai turut meningkat seiring memburuknya situasi geopolitik.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved