Selasa, 5 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Wajib Tahu

Siapa Pemilik Coca-Cola, Fanta dan Sprite? Minuman Soda Terpopuler di Dunia

The Coca-Cola Company sendiri tidak secara langsung memproduksi dan mendistribusikan minuman ke konsumen.

Tayang:
Penulis: Gryfid Talumedun | Editor: Gryfid Talumedun
Kolase Tribun Manado/Gryfid Talumedun
WAJIB TAHU - Siapa Pemilik Coca-Cola, Fanta dan Sprite? Minuman Soda Terpopuler di Dunia. Perusahaan induknya adalah The Coca-Cola Company, sebuah korporasi multinasional asal Amerika Serikat yang berbasis di Atlanta, Georgia. 
Ringkasan Berita:
  • Coca-Cola, Fanta, dan Sprite dimiliki oleh The Coca-Cola Company asal Amerika Serikat.
  • Sejak 1992, hampir seluruh perusahaan pembotolan Coca-Cola di Indonesia diakuisisi Coca-Cola Amatil (Australia).
  • Coca-Cola lahir pada 1886 di AS, berkembang pesat secara global, mengakuisisi merek seperti Fanta (1946) dan meluncurkan Sprite (1961). Di Indonesia, Coca-Cola hadir sejak 1927 dan kini menjadi simbol minuman soda lintas generasi.

 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Hampir di setiap sudut dunia, botol merah Coca-Cola, Fanta yang ceria, hingga Sprite yang menyegarkan begitu mudah dijumpai.

Minuman soda ini telah menjadi bagian dari gaya hidup lintas generasi, termasuk di Indonesia.

Namun di balik kepopulerannya, tak banyak yang tahu siapa sebenarnya pemilik Coca-Cola Company, bagaimana perjalanan panjang merek legendaris ini, serta siapa yang mengelolanya di Indonesia hingga mampu bertahan dan terus berkembang sampai hari ini.

Coca-Cola merupakan salah satu merek minuman paling terkenal di dunia.

Baca juga: Siapa Pemilik Le Minerale? Raksasa Baru Air Mineral Indonesia dengan Slogan Kaya Ada Manis-Manisnya

Perusahaan induknya adalah The Coca-Cola Company, sebuah korporasi multinasional asal Amerika Serikat yang berbasis di Atlanta, Georgia.

Perusahaan ini memegang kepemilikan merek global seperti Coca-Cola, Fanta, Sprite, dan ratusan produk minuman lainnya yang dipasarkan di lebih dari 200 negara.

The Coca-Cola Company sendiri tidak secara langsung memproduksi dan mendistribusikan minuman ke konsumen.

Model bisnis yang dijalankan adalah sistem bottling partner, yakni perusahaan lokal atau regional yang mendapat lisensi untuk memproduksi, mengemas, dan mendistribusikan produk Coca-Cola di masing-masing negara.

Di Indonesia, perjalanan Coca-Cola dimulai sejak puluhan tahun lalu dan berkembang pesat seiring meningkatnya konsumsi minuman ringan.

Sejak tahun 1992, perusahaan asal Australia, Coca-Cola Amatil, mengakuisisi hampir seluruh perusahaan pembotolan Coca-Cola di Indonesia, kecuali Bangun Wenang Beverage Company (BWBC) yang beroperasi di wilayah Sulawesi.

Pasca akuisisi tersebut, seluruh bottler yang bergabung berada di bawah satu payung perusahaan bernama Coca-Cola Amatil Indonesia.

Secara struktur hukum, Coca-Cola Amatil Indonesia terbagi dalam dua entitas utama, yakni PT Coca-Cola Bottling Indonesia (CCBI) yang bertanggung jawab pada proses produksi, serta PT Coca-Cola Distribution Indonesia (CCDI) yang menangani distribusi ke pasar.

Melalui jaringan inilah, produk Coca-Cola, Fanta, dan Sprite terus mengalir ke berbagai daerah di Indonesia, menjadikannya salah satu minuman soda paling dikenal dan dikonsumsi masyarakat.

Hingga kini, Coca-Cola tidak hanya menjadi sekadar minuman, tetapi juga simbol globalisasi, gaya hidup, dan kekuatan merek yang mampu menembus batas budaya dan generasi.

Sejarah Coca-Cola

Dilansir dari Britannica, minuman Coca-Cola lahir pada tahun 1886 setelah seorang apoteker bernama John Stith Pemberton meracik sebuah minuman sirup segar untuk mengobati berbagai macam penyakit.

Beberapa sumber menyebutkan, minuman tersebut berbahan ekstrak daun koka yang merupakan bahan baku kokain yang dicampur dengan tambahan kafein dari kacang kola.

Itu sebabnya, minuman tersebut diberi nama Coca-Cola yang berasal dari nama kedua ekstrak tersebut.

Namun pada tahun 1903, ekstrak daun kola dihilangkan dari formula.

Meskipun demikian, Coca-Cola selalu menyangkal dan menyatakan bahwa produknya sama sekali tidak mengandung ekstrak daun koka, baik dulu mapun saat ini. 

Pemberton menjual minuman dengan rasa sirup soda tersebut di pasar.

Saat cuaca panas, minuman tersebut laku keras.

Perusahaan tersebut kemudian beralih ke tangan Griggs Candler tahun 1891.

Seorang pengusaha yang juga berprofesi sebagai apoteker yang membeli usaha milik Pamberton.

Ia lalu mendirikan perusahaan baru bernama Coca-Cola Company setahun setelahnya.

Di tangan Candler, penjualan minuman Coca-Cola semakin melejit, dari awalnya 9.000 galon di tahun 1890 menjadi 370.877 galon di tahun 1900.

Lantaran semakin diterima pasar, Coca-Cola kemudian mendirikan beberapa pabrik di Dallas, Los Angeles, dan Philadelphia. Selain laris manis di AS, penjualannya juga moncer di Kanada.

Lalu di tahun 1899, perusahaan sempat menandatangani perjanjian kerja sama dengan perusahaan produsen dan distributor botol.

Pihak kedua itu diberikan hak lisensi untuk membeli sirup, memproduksi botol, dan mendistribusikan minuman dengan merek Coca-Cola dari Coca-Cola Company.

Perjanjian lisensi itu menjadi dasar sistem distribusi unik yang sampai sekarang menjadi ciri khas Coca-Cola hingga sampai saat ini.

Pada tahun 1892 atau saat baru berdiri, nilai perusahaan tersebut adalah sebesar 100.000 dollar AS.

Nilainya melonjak menjadi 25 juta dollar AS pada tahun 1919 atau saat perusahaan itu dijual ke sekelompok investor yang dipimpin pengusaha asal Atlanta, Ernest Woodruff.

Putranya, Robert Winship Woodruff, memimpin perusahaan sebagai CEO Coca-Cola Company selama lebih dari tiga dekade, dari tahun 1923 hingga 1955.

Fanta dan Sprite

Tahun-tahun setelah Perang Dunia II jadi era kejayaan Coca-Cola.

Produk perusahaan tersebut mulai dijual ke banyak negara.

Pada tahun 1946, perusahaan membeli hak Fanta, merek minuman ringan yang sebelumnya dikembangkan di Jerman.

Perusahaan juga mendaftarkan botol kaca pada tahun 1960.

Botol kaca ikonik isi ulang yang kini sudah banyak berganti dengan botol plastik.

Kemudian di tahun 1961, perusahaan mulai memperkenalkan minuman rasa lemon bernama Sprite, lalu minuman bermerek Tab pada tahun 1963 yang diklaim sebagai minuman bebas gula.

Perusahaan juga melebarkan sayapnya ke produksi minuman juz jeruk.

Coca-Cola tidak mendirikan perusahaan pengolahan jeruk baru, tapi membeli perusahaan lainnya bernama Minute Maid Corporation.

Pada tahun 1978 Coca-Cola menjadi satu-satunya perusahaan yang diizinkan untuk menjual minuman kemasan dingin di China.

Pada tahun 1982 perusahaan memperkenalkan minuman ringan rendah kalori bebas gula Diet Coke.

Perusahaan tersebut terus mengembangkan beberapa formula rasa baru agar penjualan tidak menurun.

Namun beberapa varian rasa baru tidak diterima dengan baik dan memicu kekesalan konsumen.

Hal itu mendorong Coca-Cola kembali menghidupkan formula lama yang disebut sebagai Coca-Cola Classic.

Sejak 1927

Coca-Cola pertama kali hadir di Indonesia sekira 1927.

Ketika itu, Netherland Indische Mineral Water Fabrieck (Pabrik Air Mineral Hindia Belanda) membotolkan untuk pertama kalinya di Batavia (Jakarta).

Produksi Coca-Cola lumpuh pada zaman penjajahan Jepang (1942-1945).

Tepat sesudah kemerdekaan Republik Indonesia, pabrik tersebut beroperasi di bawah nama The Indonesia Bottles Ltd Nv (IBL) dengan status perusahaan nasional.

Pada 1971, dengan pertambahan mitra usaha dan modal didirikannya pabrik pembotolan modern pertama di Indonesia dengan nama baru PT The Jaya Beverages Bottling Company.

Jenis-jenis Coca-Cola di Indonesia

Di Indonesia, Coca-Cola diproduksi PT Coca-Cola Bottling Indonesia,

Terdapat tiga versi Coca-cola, yaitu:

Coca-Cola Original Taste, minuman berkarbonasi rasa kola

Coca-Cola Light Taste (Bebas Gula, Bebas Kalori)

Coca-Cola Zero Sugar (Bebas Gula)

Itulah sejarah Coca-Cola di Indonesia yang ternyata sudah 93 tahun.

Sumber: Kompas.com

-

Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.

Baca berita lainnya di: Google News

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved