Breaking News
Jumat, 24 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Penyakit di Sangihe

Daftar Penyakit Paling Banyak Terjadi di Sangihe, Jantung dan TB Paru Terbanyak

Pemerintah Sangihe melalui Dinas Kesehatan bersama 17 puskesmas serta rumah sakit terus melakukan upaya screening dan deteksi dini.

Dokumen Pribadi/Tidak Ada
PENYAKIT: Kepala dinas kesehatan dr. Handry Pasandaran, ME/Senin (1/11/2025). Daftar penyakit banyak terjadi di Sangihe 

Ringkasan Berita:1.Kabupaten Kepulauan Sangihe kembali mencatat sejumlah penyakit yang mendominasi pelayanan kesehatan sepanjang Januari hingga September 2025..
 
2.Tingginya angka kasus TB bukan hal baru, mengingat Indonesia masih memiliki prevalensi TBC yang tinggi.
 
3.Salah satu persoalan besar dalam penanganan TBC adalah stigma dan rasa malu.

TRIBUNMANADO.CO.ID,SANGIHE- Kabupaten Kepulauan Sangihe kembali mencatat sejumlah penyakit yang mendominasi pelayanan kesehatan sepanjang Januari hingga September 2025.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan, baik pelayanan rawat jalan maupun rawat inap menunjukkan beberapa penyakit tidak menular dan menular masih cukup tinggi.

Berikut daftar penyakit paling banyak terjadi di Sangihe

Baca juga: Daftar Rincian 500 Kasus Penyakit Menular Berbahaya di Sulawesi Utara Tahun 2025, Manado Terbanyak

Pelayanan rawat jalan

  1. Coronary Artery Disease (CAD) menjadi kasus terbanyak dengan 1.824 pasien
  2. Angina Pectoris Stabil 1.469 pasien, Diabetes Melitus 782 pasien, 
  3.  Low Back Pain (LBP) 768 pasien.
  4. Hipertensi tercatat 555 pasien,
  5. Skizofrenia 496 pasien,
  6. Pulpitis 477 pasien,
  7. LSRS 374 pasien,
  8. Katarak 372 pasien,
  9. Dyspepsia 297 pasien.

Pasien rawat inap

  1. TB Paru menjadi kasus tertinggi dengan 238 pasien,
  2. Diabetes Melitus 233 pasien
  3. Hipertensi 199 pasien
  4. CKD 198 pasien,
  5. Pneumonia 171 pasien,
  6. UAP 164 pasien,
  7. Stroke 153 pasien,
  8. GE 113 pasien,
  9. Cystitis 109 pasien, 
  10. Angina Pectoris 91 pasien.

Dalam Wawancara Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sangihe, dr. Handry Pasandaran, ME, Senin (1/12/2025),menjelaskan bahwa tingginya angka kasus TB bukan hal baru, mengingat Indonesia masih memiliki prevalensi TBC yang tinggi.

“Ya memang cukup tinggi penyakit paru-paru ini, malah kalau tidak salah masuk tiga besar di dunia. Prevalensi TBC masih tinggi di negara kita,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan bersama 17 puskesmas serta rumah sakit terus melakukan upaya screening dan deteksi dini.

“Apabila ditemukan kasus, tentu kita akan obati. Begitu juga ketika ada yang kena kasus, misalnya suaminya, istrinya, dan seluruh anggota keluarga serta tetangga terdekat. Yang kontak ikut kita screening dan periksa,” jelasnya.

Menurut Pasandaran, penemuan kasus dilakukan melalui dua mekanisme:

Pasif, ketika pasien datang dengan keluhan.

Aktif, melalui screening kontak dan kegiatan cek kesehatan gratis sesuai program nasional Cek Kesehatan Gratis (CKG) Presiden Prabowo.

“Penemuan TB ini menjadi pekerjaan bersama agar upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, maupun paliatif dapat berjalan dengan baik,” tambahnya.

Ia juga menjelaskan bahwa pasien dengan stadium ringan ditangani di fasilitas dasar, sementara kasus berat dengan komplikasi dirujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap, bahkan hingga fasilitas tipe B dan A apabila ditemukan resistensi obat.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved