Wajib Tahu
Siapa Pemilik Perusahaan IMIP Morowali dan IWIP Halmahera? Dua Raksasa Nikel Indonesia
Kepemilikan saham terbesar PT IMIP berada di tangan Shanghai Decent Investment Group dengan porsi mencapai 49,69 persen.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Di balik kepulan asap pabrik dan deru mesin smelter di Morowali dan Halmahera, berdiri dua raksasa industri yang menjadi motor hilirisasi nikel Indonesia.
Keduanya yakni IMIP dan IWIP.
Namun, satu pertanyaan kerap mencuat siapa sebenarnya pemilik di balik dua kawasan industri terbesar ini?
Kawasan Industri Morowali atau Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) kini menjadi ikon hilirisasi mineral nasional.
• Siapa Pemilik Diamond? Perusahaan di Balik Es Krim dan Susu UHT yang Populer di Indonesia
Terletak di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, kawasan ini berdiri sejak 2013 dan berkembang menjadi pusat pengolahan nikel terintegrasi terbesar di Indonesia.
Di area seluas ribuan hektare itu berdiri pabrik pengolahan, smelter, hingga industri turunan yang mengolah nikel menjadi produk bernilai tinggi.
Pemilik PT IMIP Morowali
Untuk diketahui saja, kepemilikan saham terbesar PT IMIP berada di tangan Shanghai Decent Investment Group dengan porsi mencapai 49,69 persen.
Shanghai Decent Investment sendiri merupakan kepanjangan tangan Tsingshan Holding Group, untuk investasi pembangunan smelter di luar China, salah satunya di Indonesia.
Tsingshan Holding Group adalah raksasa produsen baja asal China yang dikenal sebagai salah satu pemain terbesar global di industri tersebut.
Tsingshan Holdings didirikan pada 1988 oleh pengusaha Xiang Guangda di Wenzhou. Grup ini mulai berinvestasi besar-besaran di sektor industri nikel Indonesia pada 2013, membuka jalan bagi ekspansi bisnis mereka di Tanah Air.
Sang pemilik, Xiang Guangda masuk dalam jajaran orang terkaya di China. Forbes pada 2018 mencatat kekayaannya berada di angka 28 miliar dollar AS.
Selain mengelola kawasan industri nikel melalui PT IMIP sebagai lini bisnis utama, Tsingshan Holdings juga memiliki sejumlah anak usaha lain di Indonesia dengan nilai investasi tidak kalah besar. Salah satunya adalah PT Tsingshan Steel Indonesia (PT TSI).
PT TSI mengoperasikan sejumlah fasilitas smelter yang berlokasi di area industri PT IMIP. Perusahaan ini memproduksi nikel dalam bentuk pig iron atau feronikel, dengan kapasitas output tahunan mencapai 500.000 ton.
Untuk mendukung pasokan energi bagi smelter tersebut, Tsingshan turut membangun pembangkit listrik di Morowali dengan kapasitas 2x65 megawatt (MW).
Selain PT TSI, Tsingshan juga memiliki smelter lain di kawasan IMIP melalui perusahaan lain yakni PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (PT ITSS).
Perusahaan ini sempat menjadi pemberitaan pada Desember 2023 setelah insiden ledakan tungku smelter yang memakan korban meninggal 18 pekerja, termasuk tenaga kerja asal China.
Kawasan Industri Morowali Indonesia merupakan proyek luar negeri pertama Tsingshan melalui PT IMIP. Area ini berlokasi di Morowali, Sulawesi Tengah, dan dirancang mencakup wilayah lebih dari 2.000 hektar.
Menariknya, sejumlah perusahaan besar China lain juga beroperasi di kawasan IMIP sebagai bagian dari rantai pasok industri nikel lengkap dari hulu hingga hilir, yang diklaim sebagai salah satu yang terbesar di dunia.
Di antaranya PT Sulawesi Mining Investment Indonesia (SMI), PT Guangqing Nickel Corporations Indonesia (GCNS), PT Indonesia Ruipu Nichrome (IRNC), dan PT Dexin Steel Indonesia (DSI).
Selain Shanghai Decent Investment milik Tsingshan, kepemilikan saham PT IMIP juga dimiliki PT Sulawesi Mining Investment dengan porsi 25 persen, serta perusahaan lokal PT Bintang Delapan Investama dengan 25,31 persen saham.
Tsingshan Group di Weda Bay
Investasi Tsingshan Group di Indonesia sangat jor-joran. Selain di IMIP, perusahaan ini juga menjalankan smelter nikel kawasan industri serupa di Halmahera, di bawah IWIP (Indonesia Weda Bay Industrial Park).
Di PT IWIP, sebagaimana dilihat di situs resminya, ada tiga perusahaan yang beroperasi, yaitu PT Weda Bay Nickel (WBN), PT Yashi Indonesia Investment, dan PT Youshan Nickel Indonesia.
PT Yashi Indonesia Investment adalah perusahaan hasil patungan tiga perusahaan China antara Tsingshan lewat Shanghai Decent Investment, Zhejiang Huajun Investment, dan Zhenshi Holding Group.
Sementara PT Weda Bay Nickel diketahui merupakan perusahaan patungan antara PT Aneka Tambang (Antam) dengan Tsingshan, serta Eramet, perusahaan pertambangan dan metalurgi di Prancis.
Terakhir, ada PT Youshan Nickel Indonesia. Ini adalah perusahaan patungan yang didirikan oleh Huayou group dan Tsingshan Holding Group sebagai perusahaan perintis pembuat komponen baterai untuk kendaraan listrik di IWIP.
Artinya, kepemilikan ketiga perusahaan yang beroperasi di IWIP Halmahera semuanya terkait dengan Tsingshan Group.
-
Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.
Baca berita lainnya di: Google News
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini
| Daftar Terbaru 8 Universitas Swasta Terbaik di Indonesia Tahun 2026 |
|
|---|
| Daftar 7 Negara yang Memiliki Sistem Transportasi Publik Terbaik di Dunia Tahun 2026 |
|
|---|
| Daftar 10 Negara dengan Militer Terkuat di Dunia 2026, Indonesia Ungguli Israel dan Iran |
|
|---|
| Indonesia Terancam Kebanjiran Dokter 2028, 470 Ribu Lulusan Keguruan Menganggur Tiap Tahun |
|
|---|
| Tak Perlu Tunggu 17 Tahun, Usia 16 Tahun Kini Bisa Rekam e-KTP, Ini Syarat Lengkapnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Siapa-Pemilik-Perusahaan-IMIP-Morowali-dan-IWIP-Halmahera-Dua-Raksasa-Nikel-Indonesia.jpg)