Breaking News
Minggu, 31 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Pesisir Manado

DAS Tondano dan Tikala Meluap, Pesisir Sindulang II Manado Berubah Jadi ‘Coklat’ dan Penuh Sampah

Kawasan pesisir pantai di Kelurahan Sindulang Dua, Kecamatan Tuminting, Kota Manado, Sulawesi Utara, kini dalam kondisi memprihatinkan.

Tayang:
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Rizali Posumah
Tribun Manado/Arthur Rompis
SAMPAH - Kawasan pesisir pantai di Kelurahan Sindulang Dua, Kecamatan Tuminting, Kota Manado, Sulawesi Utara, kini dalam kondisi memprihatinkan. Berdasarkan pantauan pada Kamis (28/5/2026), pesisir tersebut dipenuhi oleh tumpukan sampah yang sangat kotor. 

Ringkasan Berita:
  • Kawasan pesisir pantai di Kelurahan Sindulang Dua, Kecamatan Tuminting, Kota Manado, Sulawesi Utara, kini dalam kondisi memprihatinkan.
  • Berdasarkan pantauan pada Kamis (28/5/2026), pesisir tersebut dipenuhi oleh tumpukan sampah yang sangat kotor.
  • Kondisi ini lantaran meluapnya Daerah Aliran Sungai (DAS) Tondano dan DAS Tikala. 

 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Kawasan pesisir pantai di Kelurahan Sindulang Dua, Kecamatan Tuminting, Kota Manado, Sulawesi Utara, kini dalam kondisi memprihatinkan.

Berdasarkan pantauan pada Kamis (28/5/2026), pesisir tersebut dipenuhi oleh tumpukan sampah yang sangat kotor.

Kondisi ini lantaran meluapnya Daerah Aliran Sungai (DAS) Tondano dan DAS Tikala. 

Arus sungai membawa aneka jenis sampah menuju Selat Manado, yang pada akhirnya terdampar dan mengotori sepanjang garis pantai Sindulang Dua.

Di lokasi, tampak berbagai macam limbah berserakan.

Mulai dari botol air mineral, ban mobil, busa, botol bir, bangkai, hingga tumpukan kayu berukuran kecil dan besar yang mendominasi sudut pantai.

Keberadaan sampah, terutama balok kayu berukuran besar, mulai mengancam aktivitas ekonomi warga setempat.

Son, seorang nelayan lokal, membeberkan bahwa para nelayan terpaksa memindahkan perahu mereka ke atas tanggul demi menghindari kerusakan.

"Soalnya berbahaya, kayu kayu itu dapat merusak perahu," katanya.

Ia mengungkapkan bahwa benturan dari kayu-kayu besar tersebut sudah beberapa kali merusak lambung perahu warga.

Bagi komunitas nelayan di Sindulang Dua, perahu merupakan aset paling berharga yang mereka miliki untuk menyambung hidup.

"Ini aset pencaharian kami satu satunya, kalau rusak sulit dibayangkan," kata dia.

Selain itu, tumpukan limbah ini merusak keindahan pantai secara drastis.

Son menyayangkan hilangnya agenda kerja bakti dan pengangkutan sampah yang biasanya rutin dilakukan.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved