Senin, 4 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Manado Sulawesi Utara

Kepala SPPG Bunaken–Molas di Manado Ungkap Suka Duka Layani MBG

“Tenaga honor kami tempatkan sebagai PIC di sekolah untuk menjaga makanan. Mereka dibayar sesuai jumlah siswa yang dilayani,”

Tayang:
Penulis: Isvara Savitri | Editor: Isvara Savitri
Tribun Manado/Isvara Savitri
KEPALA SPPG - Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bunaken–Molas, Vorianus BT, Kamis (16/4/2026). Ia angkat bicara terkait keluhan orang tua/wali murid mengenai penyaluran MBG Kelurahan Molas, Kecamatan Bunaken, Kota Manado, Sulawesi Utara. 
Ringkasan Berita:
  • Guru honorer di tiap sekolah sebagai penanggung jawab di sekolah (PIC). 
  • Mereka bertugas memastikan makanan tetap dalam kondisi baik saat diterima.
  • Pengawasan diperketat karena adanya kekhawatiran terhadap potensi gangguan.

 

TRIBUNMANADO.COM, MANADO - Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bunaken–Molas, Vorianus BT, menegaskan pihaknya terus memperketat pengawasan dalam pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG).

Hal ini menyusul berbagai tantangan di lapangan, termasuk isu kualitas makanan dan keamanan distribusi.

Untuk menjaga kualitas makanan hingga sampai ke siswa, pihaknya menugaskan guru honorer di tiap sekolah sebagai penanggung jawab di sekolah (PIC). 

Mereka bertugas memastikan makanan tetap dalam kondisi baik saat diterima.

“Tenaga honor kami tempatkan sebagai PIC di sekolah untuk menjaga makanan. Mereka dibayar sesuai jumlah siswa yang dilayani,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).

Ia mengakui, pengawasan diperketat karena adanya kekhawatiran terhadap potensi gangguan atau kelalaian dalam proses distribusi.

“Pengawasan harus ketat, jangan sampai ada hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kebersihan makanan. Pernah ada temuan rambut di makanan, itu langsung kami evaluasi,” katanya.

Sejak kejadian tersebut, pihaknya langsung meningkatkan standar operasional, termasuk kewajiban penggunaan alat pelindung diri (APD) bagi seluruh karyawan dapur.

“Sekarang semua sudah menggunakan perlengkapan sesuai standar, seperti penutup kepala. Itu untuk mencegah kejadian serupa,” jelasnya.

Hal ini terlihat saat Tribunmanado.com berkunjung ke SPPG Bunaken-Molas.

SPPG - SPPG Bunaken-Molas di Jalan Raya Molas-Tongkeina, Bunaken, Manado, Sulawesi Utara, Kamis (16/4/2026). Dapur ini melayani 3.800 penerima manfaat dari 42 sekolah.
SPPG - SPPG Bunaken-Molas di Jalan Raya Molas-Tongkeina, Bunaken, Manado, Sulawesi Utara, Kamis (16/4/2026). Dapur ini melayani 3.800 penerima manfaat dari 42 sekolah. (Tribun Manado/Isvara Savitri)

Pada sekitar pukul 10.00 Wita mobil SPPG sudah pergi mengantar MBG rute terakhir.

Para pegawai tinggal membersihkan dapur.

Mereka tetap menggunakan APD seperti penutup kepala, sarung tangan, hingga sepatu boots meski sudah selesai mengolah makanan.

Terkait menu makanan, Vorianus mengakui pihaknya harus menyesuaikan dengan selera anak-anak yang beragam. 

Ia menghindari menu yang terlalu asing atau tidak sesuai dengan kebiasaan lokal.

“Kami tidak berani buat menu aneh-aneh. Pernah coba menu seperti burger atau ayam katsu, tapi anak-anak tidak suka. Akhirnya kami kembali ke menu sederhana seperti ayam goreng, ayam kecap, atau ikan tuna,” ungkap Vorianus.

Pihaknya juga menerima berbagai masukan langsung dari siswa, bahkan dalam bentuk surat.

“Ada anak-anak yang kirim surat, bilang terima kasih dan minta menu tertentu seperti nasi goreng atau ikan. Kalau memungkinkan, kami coba penuhi,” katanya.

Dalam hal bahan baku, SPPG Bunaken-Molas bekerja sama dengan sejumlah pemasok lokal. 

Namun, Vorianus mengakui adanya tantangan, terutama terkait kualitas bahan yang tidak selalu bisa terdeteksi sejak awal.

Baca juga: 3 Fakta Kasus Penikaman Berujung Maut di Wori Minahasa Utara: Pelaku dan Korban Masih Kerabat

Baca juga: Tetap Layani Sekolah di Luar Wilayah, Kepala SPPG Bunaken-Molas di Manado Ungkap Alasannya

“Kalau ada bahan yang rusak seperti telur, kami minta diganti. Tapi memang ada risiko, misalnya telur busuk baru ketahuan saat dimasak,” jelasnya.

Ia menegaskan, hingga saat ini belum pernah terjadi kasus keracunan makanan di wilayahnya. 

Namun, ia tidak menampik pernah ada satu kejadian makanan basi.

“Pernah satu kali makanan basi, dan langsung kami batalkan semua. Itu jadi evaluasi besar bagi kami,” ujarnya.

Selain itu, Vorianus juga mengakui tekanan operasional semakin meningkat akibat kenaikan harga bahan pokok seperti beras dan minyak goreng.

“Harga bahan naik semua, itu juga jadi tantangan bagi kami untuk tetap menjaga kualitas makanan,” katanya.

Meski dihadapkan pada berbagai kendala, ia memastikan komitmen SPPG untuk terus memperbaiki pelayanan program MBG agar tetap aman dan layak dikonsumsi oleh para siswa.

“Kami terus berbenah, pengawasan diperketat, dan sistem diperbaiki supaya program ini benar-benar bermanfaat bagi anak-anak,” tandasnya.(*)

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved