Kebakaran di Manado
Kata Akademisi Unsrat Soal Kebakaran 14 Rumah di Manado, Pemerintah Perlu Segera Tata Ulang
Kebakaran permukiman bukan sekadar musibah sesaat, tetapi meninggalkan dampak panjang yang kompleks.
Penulis: Ferdi Guhuhuku | Editor: Alpen Martinus
Ringkasan Berita:1.Pingkan menjelaskan kebakaran permukiman padat penduduk menimbulkan dampak panjang yang tidak hanya berupa kerugian material, tetapi juga sosial, psikologis, dan lingkungan.2.Dampak langsung kebakaran terhadap tata kota adalah kerusakan fisik, gangguan fungsi ruang, dan perubahan kepadatan permukiman.3.Masalah pasca kebakaran dalam konteks tata kota muncul karena kawasan yang terbakar tidak hanya kehilangan bangunan, tetapi juga fungsi ruang dan keteraturan.
TRIBUNMANADO.CO.ID,MANADO-Kebakaran hebat melanda permukiman padat di Kecamatan Singkil, Kota Manado, dan menghanguskan sedikitnya 14 rumah warga pada, Rabu (25/3/2026).
Akibat peristiwa tersebut, 14 kepala keluarga (KK) kehilangan tempat tinggal dan kini mengungsi di lokasi sementara.
Terkait itu akademisi dari Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado Dr. Eng. Ir. Pingkan Peggy Egam, MT. IPM memberikan pendapat.
Baca juga: Kronologi Kebakaran 14 Rumah di Singkil Manado, Api Berasal dari Dapur Warga yang Sedang Memasak
Pingkan menjelaskan kebakaran permukiman padat penduduk menimbulkan dampak panjang yang tidak hanya berupa kerugian material, tetapi juga sosial, psikologis, dan lingkungan.
Kasus terbaru di Manado dan menunjukkan bahwa 14 rumah hangus dalam sekejap sehingga warga kehilangan tempat tinggal dan rasa aman.
Dampak langsung kebakaran terhadap tata kota adalah kerusakan fisik, gangguan fungsi ruang, dan perubahan kepadatan permukiman.
Hal ini membuat kawasan kehilangan keteraturan tata ruang, sehingga pemerintah kota perlu segera melakukan penataan ulang agar tidak berkembang menjadi permukiman kumuh.
Masalah pasca kebakaran dalam konteks tata kota muncul karena kawasan yang terbakar tidak hanya kehilangan bangunan, tetapi juga fungsi ruang dan keteraturan.
Masalah-masalah yang ada di antaranya kerusakan infrastruktur, jalan lingkungan tertutup puing, jaringan listrik dan air rusak lahan kosong tidak teratur, bekas bangunan terbakar sering dibiarkan, menimbulkan kawasan kumuh serta akses dari dan ke kawasan mengalami gangguan.
Mobil pemadam dan ambulans sulit masuk karena jalur sempit atau tertutup, apabila titik kebakaran berada di tengah permukiman padat.
Masalah dalam aspek tata ruang diantaranya, perubahan wajah kawasan yang tadinya padat menjadi kosong tetapi pembangunan ulang sering tidak mengikuti rencana tata kota.
Hadirnya bangunan semi permanen dengan kondisi seadanya, warga membangun kembali secara darurat tanpa standar, menimbulkan permukiman baru yang lebih rawan, dan rendah dalam aspek estetika permukiman.
"Terjadi ketidaksesuaian zonasi, area yang seharusnya ruang terbuka atau fasilitas umum kembali dipakai sebagai hunian,” tuturnya.
Ia menyampaikan hal mutlak yang harus diambil pemerintah yaitu membantu warga mengatasi masalah pasca kebakaran, walaupun disadari bahwa pemerintah mungkin memiliki keterbatas dalam beberapa aspek terkait regulasi dan aturan.
Hal paling bijaksana yaitu harus diarahkan padapenataan ulang permukiman, aksesibilitas darurat, dan peruntukan lahan yang sesuai.
| Kisah Petugas Damkar Manado, Tembus Jalan Selebar Dua Meter Demi Padamkan Api |
|
|---|
| 50 Kasus Kebakaran di Manado Sejak Januari Hingga April 2026, Paling Banyak Gedung |
|
|---|
| Kasus Kebakaran di Kota Manado Sepanjang Januari - April 2026 Capai 50-an Kejadian |
|
|---|
| 5 Fakta Terbakarnya Dua Rumah di Tuminting Manado, Awal Mula Api Terlihat Hingga Lansia Selamat |
|
|---|
| Detik-detik Menegangkan Kebakaran di Tuminting Manado, Sudarmi Terobos Api Demi Selamatkan Sang Cucu |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Pengamat-Tata-Kota-Pingkan-Peggy-Egam-saat-hadir-di-tribunmanado.jpg)