Breaking News
Selasa, 2 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Renungan Harian Kristen

Renungan Pemuda Kristen, Lukas 12:1, Filosofi Kedondong

Renungan pemuda kristen. Pembacaan alkitab terdapat pada Lukas 12:1. Tema perenungan adalah Filosofi Kedondong.

Tayang:
Editor: Chintya Rantung
Tribun Manado/Chintya Rantung
RENUNGAN - Pemuda kristen. Pembacaan alkitab terdapat pada Lukas 12:1. Tema perenungan adalah Filosofi Kedondong. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Renungan pemuda kristen.

Pembacaan alkitab terdapat pada Lukas 12:1.

Tema perenungan adalah Filosofi Kedondong.

Khotbah:

Sobat Obor, pasti pernah melihat buah kedondong yang dari luar tampak mulus dan hijau segar.

Orang yang melihatnya langsung tertarik dan mengira rasanya pasti manis dan menyegarkan. Tetapi di bagian dalam ternyata penuh serat keras dan duri kecil yang tajam. 

Dari luar terlihat baik, tetapi bagian dalamnya menyakitkan. Demikianlah kemunafikan rohani.

Penampilan bisa rapi, kata-kata bisa saleh, pelayanan bisa aktif, tetapi hati belum tentu benar di hadapan Tuhan. 

Yesus menyebutnya “ragi orang Farisi” sesuatu yang kecil, tersembunyi, tetapi meresapi seluruh hidup. Allah tidak tertipu oleh kulit luar yang mulus. Ia melihat sampai ke bagian terdalam hati.

Sobat obor, Lukas 12:1 mencatat peringatan Yesus tentang “ragi orang Farisi,” yaitu kemunafikan. Dalam konteksnya, Yesus berbicara di tengah kerumunan besar, tetapi fokus-Nya tertuju kepada murid-murid.

Kata “ragi” (ζύμη) melambangkan pengaruh kecil yang menyebar dan meresapi seluruh adonan; demikian pula kemunafikan bekerja diam-diam dari dalam hati.

Secara teologis, ini menyingkapkan realitas total depravity: dosa bukan hanya tindakan lahiriah, tetapi kerusakan batin yang mendorong manusia mencari kebenaran diri (self-righteousness).

Kaum Farisi tampil religius, tetapi hati mereka jauh dari Allah. Dalam perspektif Reformed, peringatan ini menegaskan bahwa kehidupan Kristen sejati hanya mungkin melalui regenerasi oleh anugerah, bukan melalui performa moral.

Hidup coram Deo di hadapan Allah yang Mahatahu membongkar setiap topeng rohani. Gereja dan setiap orang percaya dipanggil bukan untuk membangun reputasi religius, melainkan integritas yang lahir dari persatuan dengan Kristus.

Injil membebaskan kita dari kebutuhan untuk berpura-pura, sebab kebenaran kita bukan berasal dari diri sendiri, tetapi dari Kristus yang membenarkan orang berdosa oleh kasih karunia-Nya.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved