Rabu, 8 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Renungan Harian Kristen

Renungan Pemuda Kristen, Matius 28:2-4, di Luar Nalar

Renungan pemuda kristen. Pembacaan alkitab terdapat pada Matius 28:2-4. Tema perenungan adalah di Luar Nalar.

Editor: Chintya Rantung
Tribun Manado/Chintya Rantung
RENUNGAN - Pemuda kristen. Pembacaan alkitab terdapat pada Matius 28:2-4. Tema perenungan adalah di Luar Nalar. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Renungan pemuda kristen.

Pembacaan alkitab terdapat pada Matius 28:2-4.

Tema perenungan adalah di Luar Nalar.

Khotbah:

Paskah berarti semuanya telah lewat, semuanya telah lalu (Ibrani: pesakh). Dan bukan itu saja. Pasklah yang membuat sesuatu yang berlaku, menjadi tidak berlalu lagi. 

Paskah merombak adat istadat yang kental waktu itu. Dengan memilih para wanita sebagai yang pertama mendapat kabar dan membawa kabar kebangkitan Yesus.

Mereka bukan orang-orang yang mendapat kedudukan terhormat dalam struktur sosial Yahudi. 

Karenanya kita sepakati bahwa ketika adat atau tradisi begitu mengekang saat itu, paskah justru adalah berita kebebasan. Kebebasan dan kedaulatan Allah sendiri.

Semua yang terjadi pada hari itu, berada diluar jangkauan hukum alam, diluar analisa manusia dan kemampuannya. Para penjaga-penjaga yang melihat peristiwa itu pun gentar ketakutan dan menjadi seperti orang mati.

Terjadi gempa bumi yang hebat. Seorang Malaikat turun dengan wajah yang mengkilap dan pakaian putih bagaikan salju.

Semua memang berada di luar nalar dan jangkaun manusia, namun diatas semua itu ada Allah yang berkuasa. 

Allah yang hidup, Allah yang menghidupkan. 

Bila kematian dikatakan menjadi lambang kuasa dunia yang tak terbantahkan dan tergoyahkan, maka paskah mengubah itu. 1 Korintus 15:16 berkata: “maka musuh terakhir yang dikalakanNya adalah kematian”.

Paskah adalah deklarasi bahwa Allah berdaulat atas hidup dan mati. Bahwa tidak ada situasi yang terlalu mati untuk dibangkitkan. 

Tidak ada dosa yang terlalu gelap untuk diampuni. Tidak ada kegagalan yang terlalu hancur untuk dipulihkan. Karena itu, mari kita tidak hanya merayakan Paskah sebagai tradisi gerejawi.

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved