Opini

'Menari di Bawah Gerimis' Perjuangan Tanpa Henti Melawan Kanker

Editor: David_Kusuma
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Muhamad Awaludin

Penulis: Muhamad Awaludin (Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi)

DI sebuah pagi yang tenang, di antara riuhnya kehidupan kota, ada seorang wanita berusia produktif, mendengar kabar yang menggetarkan jiwa: kanker payudara telah bersarang di tubuhnya. Sejenak, dunia terasa berhenti. Bayang-bayang kehilangan sang kakak karena penyakit yang sama kembali menghantui pikirannya. Ia bertanya-tanya, apakah ini akhir? Apakah ini takdir yang tak bisa diubah?

Namun, di titik tergelap itulah, Dia menemukan cahayanya. Ketakutan tidak boleh menjadi penguasa hidupnya. Ia memutuskan untuk berdiri, bukan untuk menyerah, tetapi untuk berjuang. Dengan langkah penuh keyakinan, ia memasuki babak baru dalam hidupnya, sebuah perjalanan yang penuh luka, tetapi juga sarat makna.

Setiap pagi, ia menempuh perjalanan panjang dari rumahnya menuju Rumah sakit. Bukan untuk mengejar mimpi, tetapi untuk menyelamatkan hidupnya sendiri. Radiasi menjadi teman perjalanannya, rasa sakit menjadi saudaranya, dan harapan menjadi napas yang menguatkannya.

Di ruang-ruang rumah sakit yang sunyi, Dia menyaksikan wajah-wajah penuh duka. Namun, di mata mereka, ia juga melihat sesuatu yang lebih kuat dari penyakit itu sendiri: tekad, keteguhan, dan keyakinan bahwa hidup masih layak diperjuangkan.

Ia tidak ingin berjalan sendirian dalam badai ini. Ia pun bergabung dengan komunitas para pejuang kanker, berbagi cerita, berbagi air mata, dan berbagi semangat yang tak pernah padam.

Setelah berbulan-bulan bertarung melawan sesuatu yang tak kasat mata, dia akhirnya berdiri di ujung perjalanan yang berbeda. Ia adalah penyintas. Tapi baginya, perjuangan tidak selesai di sini. Kini, ia memilih untuk menjadi cahaya bagi mereka yang masih bertarung, mengulurkan tangan bagi mereka yang baru saja menerima vonis, dan membisikkan pada mereka yang hampir menyerah.

Gerimis sering dikaitkan dengan suasana sendu, dingin, dan ketidaknyamanan. Namun, seseorang yang memilih untuk menari di bawah gerimis tidak melihatnya sebagai hambatan, melainkan sebagai bagian dari perjalanan yang harus dinikmati. Ia tidak lari atau bersembunyi, tetapi justru merangkul situasi itu dengan keberanian dan ketabahan. Dalam konteks perjuangan melawan

kanker, “menari di bawah gerimis” melambangkan semangat para pasien yang menghadapi rasa sakit, ketidakpastian, dan ketakutan dengan keberanian. Mereka tidak menyerah meskipun hidup mereka berubah drastis. Alih-alih terpuruk dalam penderitaan, mereka memilih untuk tetap bergerak maju, menemukan kebahagiaan dalam momen-momen kecil, dan tetap menjalani hidup dengan penuh harapan.

Gerimis juga mencerminkan kesulitan yang tidak bisa dihindari—sama seperti kanker yang datang tanpa peringatan. Namun, seperti seseorang yang menari di bawah gerimis, para pejuang kanker tidak membiarkan situasi itu mematahkan semangat mereka.

Setiap langkah tarian melambangkan usaha mereka dalam menjalani pengobatan, menerima dukungan dari orang-orang tercinta, dan tetap menemukan alasan untuk tersenyum meskipun didera kesulitan.
Kanker: Ujian Berat, tetapi Pejuang Tetap Bertahan dengan Penuh Harapan

Setiap tanggal 4 Februari diperingati sebagai hari kanker sedunia dimana pada momen ini kita diingatkan untuk meningkatkan kesadaran kita dalam upaya mencegah penyakit kanker. Berdasarkan data yang didapat Kanker merupakan salah satu tantangan kesehatan terbesar di dunia. Menurut World Cancer Research Fund, pada tahun 2022, tercatat hampir 20 juta kasus kanker baru secara global, dengan angka kematian mencapai sekitar 9,7 juta kasus.

Peningkatan jumlah kasus kanker di Indonesia juga tercermin dari data Riskesdas, yang menunjukkan prevalensi tumor atau kanker meningkat dari 1,4 per 1.000 penduduk pada tahun 2013 menjadi 1,79 per 1.000 penduduk pada tahun 2018. Sedangkan data Global Burden Of Cancer Study (Globocan) dari World Health Organization (WHO) mencatat total kasus kanker di Indonesia pada 2020 Mencapai 396.914 kasus dan total kematian sebesar 234.511 kasus

Kanker adalah salah satu ujian terberat dalam kehidupan. Penyakit ini tidak hanya menguji fisik, tetapi juga mental, emosional, dan spiritual seseorang. Ketika seseorang didiagnosis kanker, dunia mereka seakan berhenti sejenak. Rasa takut, kecemasan, dan ketidakpastian menyelimuti pikiran bukan hanya bagi pasien, tetapi juga bagi keluarga dan orang-orang terdekat. Pengobatan kanker sering kali panjang dan melelahkan.

Rambut rontok, tubuh melemah, dan rasa sakit yang terus- menerus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari para pejuang kanker. Belum lagi tekanan finansial dan stigma sosial yang terkadang membuat perjuangan ini terasa semakin berat.

Halaman
1234

Berita Terkini