“Saya kira apa yang terjadi ini kan bagian dari proses politik yang sudah biasa. Jadi tidak perlu bersedih hati, tidak boleh menangis,” imbuh dia.
Sebelumnya, Djarot menyatakan bacapres-bacawapres PDIP Ganjar Pranowo dan Mahfud MD berkomitmen untuk memperkuat demokrasi.
Ia menyatakan rakyat semakin cerdas melihat rekayasa hukum pada putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait batas usia capres-cawapres.
“Spiritualitas bangsa Indonesia mengajarkan bahwa tidak ada tempat bagi mereka yang demi ambisi kekuasaan,
dan cinta terhadap keponakan, lalu MK dikebiri, dan demokrasi pun mati," tutur Djarot dalam keterangan PDIP, Sabtu (4/11/2023).
Baca juga: Hashim Djojohadikusumo di Manado Sulawesi Utara: Prabowo-Gibran Petugas Rakyat
PDIP Sebut Prabowo Punya Jurus Menggoda dan Bujuk Rayu
Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP sekaligus Sekretasi Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar Pranowo-Mahfud MD, Hasto Kristiyanto menyampaikan tiga pantun yang seolah menyindir kejadian pencopotan baliho Ganjar-Mahfud, Presiden Joko Widodo (Jokowi), hingga Prabowo Subianto.
Lewat pantun, Hasto menyinggung manuver Prabowo Subianto menjelang Pilprs 2024.
Rayuan serta bujuk rayu Prabowo meluluhkan satu keluarga yang berpaling terkait sikap politik untuk Pemilu 2024 mendatang.
Hasto mengatakan, pantun yang dibuatnya ini mencerminkan suasana hati PDIP maupun pendukung Ganjar-Mahfud.
"Pertama, 'Pulau Bali Pulau Dewata. Masyarakatnya ramah terbuka pada siapa saja. Namun, ada yang tega merusak suasana.
Melepas baliho dan bendera sebagai cermin ketidakadilan nyata'," kata Hasto dalam keterangannya, Sabtu (4/11/2023).
Pantun Hasto yang pertama ini disambut tepuk tangan para hadirin di acara penerimaan dukungan dari Forum Alumni Angkatan Muda Muhammadiyah Bali di Renon, Denpasar, Sabtu kemarin.
"Pantun kedua, 'Bali bumi spiritual terkenal di dunia. Masyarakatnya religius dengan kultur khas Indonesia.
Di sini berlaku hukum karmapala. Bagi siapa pun yang cederai kasih Ibu Pertiwi demi perpanjangan kuasa'," ujar Hasto.