Seperti kata Pascal, bahwa hati yang adalah pusat pikiran dan kepribadian manusia, hanya dapat diisi oleh Allah sang Pencipta hati itu sendiri, itu terbukti.
Saulus, yang hatinya ganas dan kejam itu bisa berubah total, menjadi hati yang sangat mengasihi Tuhan Yesus Kristus (1 Timotius 1:13).
Banyak orang tadinya sangat benci terhadap Injil, berubah drastis menjadi benar-benar cinta Tuhan, sampai rela dianiaya sekalipun.
Kita tidak dapat mengenal hati orang, namun dari buahnya kita dapat menilai bahwa orang itu sudah mengalami pembaharuan hidup.
Lalu bagaimana dengan kita sendiri?
Apakah kita selalu senang dan ingin memuliakan Dia?
Ada sebuah lagu yang membuat hati kita bersukacita, yang berkata: “Ku s’nang lakukan kehendak-Mu Tuhan, ku s’nang melakukannya. Jalan serta-Mu tak penatkan diriku, s’bab ku s’nang melakukannya.”
Marilah kita berkata kepada Yesus, “Tuhan kuingin dapat memancarkan, kasih-Mu yang penuh kemurnian. Budi bahasaku , dihaluskan Roh-Mu, hingga memancarkan keindahan-Mu.”
Itukah juga yang terpancar dari hati kita?
Inspirasi: Kalau hati adalah pusat segala pikiran dan perilaku, yang kemudian bernaung di bawah kendali Kristus, maka tak ada lagi yang lebih indah daripada itu.
Baca tanpa iklan