Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Belakangan ini di kalangan remaja hingga dewasa ramai membahas istilah Love Language atau Bahasa Cinta.
Seringnya, istilah love language ini didiskusikan oleh sesama teman tongkrongan.
Saat kemunculan istilah ini, tidak sedikit anak muda yang penasaran dan ingin tahu tentang love language ini seperti apa.
Love Language sendiri adalah lima macam gambaran terkait ekspresi menyatakan cinta dari seseorang kepada pasangan atau dalam satu hubungan.
Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam artikel yang terbit di Verywell Mind.
Lewat bahasa cinta inilah, para pasangan kekasih bakal mengetahui karakteristik dari masing-masing dari mereka.
Dan dengan mengetahui itu, bisa dengan mudah memahami bagaimana mereka di mata sang kekasih.
Berikut 5 jenis Love Language:
Words of Affirmation: mengungkapkan kasih sayang lewat kata-kata, contohnya memberikan pujian atau penghargaan.
Quality Time: menginginkan perhatian yang penuh saat menghabiskan waktu bersama.
Phsycal Touch: merasakan cinta lewat sentuhan fisik, contohnya seperti pegangan tangan atau berpelukan.
Acts of Service: mengedepankan tindakan nyata ke pasangan, jadi bukan hanya bicara.
Receiving Gifts: merasa dicintai dengan memberikan hadiah.
Sejarah istilah Love Language
Lantas kapan dan siapa yang pertama kali mencetuskan istilah love language itu?
Meski viralnya baru belakangan ini, tapi ternyata istilah Love Language ini sudah cukup lama hadi di kehidupan kita umat manusia.
Sosol di balik istilah ini adalah seorang penulis dan penasihat pernikahan asal Amerika Serikat bernama Gary Chapman.
Lima love language itu sendiri muncul pertama kali dalam bukunya yang berjudul “The 5 Love Language”, yang terbit pada tahun 1992.
Sebelum menerbitkan buku itu, Chapman ini banyak memperhatikan dan meneliti pola para pasangan yang konsultasi sama dirinya.
Dari berbagai macam masalah yang ia temui dari client-nya itulah, Chapman mulai sadar kalau pasangan itu sering salah memahami kebutuhan satu sama lain.
“Pengetahuan seputar love language bisa membantu menunjukkan rasa sayang dan cinta secara tepat kepada pasangan.
Sebab terkadang, apabila seseorang tidak mendapatka perlakuan yang sesuai dengan bahasa kasihnya, maka akan muncul perasaan tidak dicintai,” tulisnya yang masih dikutip melalui Verywell Mind.
Baca berita lainnya di: Google News.
Berita terbaru Tribun Manado: klik di sini.