"Ya Allah, janganlah Engkau jadikan puasa ini sebagai yang terakhir dalam hidupku. Seandainya Engkau berketetapan sebaliknya, maka jadikanlah puasaku ini sebagai puasa yang dirahmati bukan yang hampa semata."
Doa ini juga seringkali diamalkan Nabi Muhammad SAW untuk segera dipertemukan kembali dengan ramadan tahun selanjutnya.
Bacaan Takbir Idul Fitri Sesuai Alquran dan Sunah
Pada malam setelah bulan Ramadhan berakhir, umat Islam disunnahkan mengumandangkan takbir.
Rasulullah SAW sangat menganjurkan umatnya untuk memperbanyak membaca takbir saat Idul Fitri. Hal itu dijelaskan dalam hadis berikut:
زينوا اعيادكم بالتكبير
Artinya: "Hiasilah hari raya kalian dengan memperbanyak membaca takbir."
Selain itu, Rasulullah SAW mengingatkan keutamaan bernilai pahala apabila seseorang memperbanyak bacaan takbir di Hari Raya Idul Fitri.
اكثروا من التكبير ليلة العيدين فانهم يهدم الذنوب هدما
Artinya: "Perbanyaklah membaca takbir pada malam hari raya (Fitri dan Adha) karena hal itu dapat melebur dosa-dosa."
Kapan takbir ini mulai dikumandangkan?
Dikutip dari Muhammadiyah.or.id,
sebenarnya, tidak ada ketentuan yang pasti tentang kapan saja takbir dikumandangkan. Oleh sebab itu, yang dipedomani adalah anjuran memperbanyak takbir.
Adapun waktunya dapat dilakukan kapan saja yang memungkinkan asal masih di dalam batas waktu yang diperintahkan; untuk idul fitri mulai terbenamnya matahari pada hari terakhir bulan Ramadan sampai salat Id ditegakkan.
Sebagaimana firman Allah: “…dan supaya kamu menyempurnakan bilangannya dan supaya kamu agungkan kebesaran Allah atas petunjuk yang telah Dia berikan padamu dan supaya kamu bersyukur.” [QS. al-Baqarah: 185].
Lalu ada pula hadits riwayat Ibnu Umar ra: Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa ia apabila pergi ke tanah lapang di pagi hari Id, beliau bertakbir dengan mengeraskan suara takbirnya. Dalam riwayat lain (dikatakan): Beliau apabila pergi ke tempat shalat pada pagi hari Idul Fitri ketika matahari terbit, beliau bertakbir hingga sampai ke tempat shalat pada hari Id, kemudian di tempat shalat itu beliau bertakbir pula, sehingga apabila imam telah duduk, beliau berhenti bertakbir. [HR. asy-Syafi‘i dalam al-Musnad, I:153, hadis no. 444 dan 445].