Sosok Tokoh

Ingat Harmoko, Eks Ketua MPR dan Menteri Orba? Jurnalis yang Berani Minta Pak Harto Mundur Mei 1998

Editor: Frandi Piring
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ketua MPR/DPR RI pada 1998, Harmoko (kiri) meminta Soeharto (kanan) untuk mundur dari jabatan presiden pada Mei 2021.

Selama menjabat sebagai Menteri, dapat dikatakan Harmoko menjadi salah satu orang kepercayaan ke-2 Presiden Soeharto.

Harmoko dianggap mampu menerjemahkan gagasan-gagasan Soeharto kala itu.

Bahkan, Ia juga pencetus ide Kelompencapir (Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa) yang berfungsi untuk menyampaikan informasi dari pemerintah ke publik.

Mantan Ketua Umum Partai Golkar ini juga sosok dibalik pembredelan Tempo, DeTik, dan Editor dengan tujuan demi kestabilan pemerintahan.

Ketua MPR/DPR tahun 1998 Harmoko (tengah) meminta Presiden Soeharto mundur. (Reuters)

Sebagai sosok yang bergelut dengan pers, sebetulnya ia paham pembredelan sangat menyakitkan.

Namun, apa boleh buat itu adalah perintah.

Menjelan Pemilihan tahun 1998, Presiden Soeharto sebetulnya sudah berniat mundur.

Tapi, Harmoko tetap mendukungnya untuk melanjutkan pemerintahan.

(Foto: Sosok Harmoko (kanan), mantan Ketua DPR/MPR RI yang meminta Soeharto (kiri) mundur dari jabatan Presiden 1998. (AFP/Agus Lolong)

Setelah kembali terpilih, ternyata gejolak akibat krisis moneter semakin menjadi hingga terjadi kerusuhan Mei 1998.

Hal tak terduga terjadi tanggal 18 Mei 1998. Harmoko mengeluarkan keterangan pers dan meminta supaya Presiden Soeharto mundur.

“Demi persatuan dan kesatuan Bangsa pimpinan DPR baik Ketua maupun Wakil Ketua, mengharapkan presiden Soeharto mengundurkan diri secara arif dan bijaksana,” ucap Harmoko.

Hal tersebut yang membuat ketegangan antara keluarga Cendana Soeharto dan Harmoko.

Mereka pun tidak pernah bertatap muka lagi hingga tahun 2008, Harmoko menjenguk Soeharto di RSPP dan menjadi pertemuan yang terakhir sebelum Soeharto meninggal.

Halaman
123

Berita Terkini