Mutiara Hikmah

Kisah Sufi: Ketika Imam Abu Yazid Dipukuli Seorang Pemabuk

Editor: Rizali Posumah
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi sufi

TRIBUNMANADO.CO.ID - Imam Abu Yazid atau Abu Yazid Al-Bustami adalah seorang sufi (penempuh jalan spiritual) yang cukup terkenal di dunia Islam. 

Ia merupakan sufi besar pada abad III Hijriyah. Abu Yazid berkebangsaan Persia, lahir tahun 804 M/ 188H.

Ia lahir dengan nama lengkap Abu Yazid Tayfur ibn Isa ibn Surusyan al-Busthami. Orang tuanya memanggi Abu Yazid kecil dengan naman yang cukup indah, Tayfur.

Dalam literatur-literatur tasawuf, namanya sering ditulis dengan Bayazid Bastami.

Berikut sepenggal kisahnya yang Tribun Manado lansir dari tulisan Muhammad Afiq Zahara yang terbit di  laman NUOnline:  

Disebutkan dalam sebuah riwayat, salah satu kebiasaan Imam Abu Yazid (804-874 M) adalah sering berjalan-jalan di sekitar pemakaman.

Suatu malam ketika kembali, ia berpapasan dengan seorang bangsawan muda yang sedang memainkan barbath (semacam kecapi).

Melihat itu, Imam Abu Yazid secara refleks mengatakan: “La haula wa la quwwata illa billahi (tiada daya dan kekuatan melainkan atas pertolongan Allah)” sebagai bentuk memohon perlindungan Allah.

Pemuda itu tengah mabuk dan memukul kepala Imam Abu Yazid dengan barbathnya, hingga barbathnya pecah. Kepala Imam Abu Yazid pun berdarah.

Ia kembali ke tempatnya dan memanggil salah seorang temannya.

Ia memberikan kepada temannya sebuah bungkusan yang dilipat rapi sembari mengatakan: Sampaikan maafku pada fulan dan berikan ini padanya serta sampaikan perkataanku ini:

الدراهم ثمن بربطك الذي كسرته علي رأسي, والحلوي عوض الغصّة التي حصلت لك أوان الضرب

“Uang dirham ini adalah kompensasi atas barbath tuan (semacam kecapi) yang hancur karena kepalaku, dan manisan ini untuk menghilangkan kesedihan tuan sebab (hancurnya barbath tuan) di saat memukulkannya (ke kepalaku).” (Fariduddin Attar, Tadzkirah al-Auliya’, alih bahasa Arab oleh Muhammad al-Ashiliy al-Wasthani al-Syafi’i (836 H), Damaskus: Darul Maktabi, 2009, hlm 193).

Setelah pemuda bangsawan itu mengetahui bahwa orang yang dipukulnya tadi malam adalah Imam Abu Yazid, ia terharu dan bergegas mendatanginya untuk meminta maaf dan bertaubat.

****

Halaman
12

Berita Terkini