Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

PLN

PLN UID Sulutenggo Dorong Resiliensi dan Keseimbangan Perempuan di Tengah Tantangan Zaman

Program ini dalam upaya mendukung pemberdayaan perempuan dan memperkuat peran strategis mereka di dunia kerja dan kehidupan sosial. 

Dokumentasi PLN
BERSAMA - Management PT PLN (Persero) UID Suluttenggo berfoto bersama Narasumber A. Fielia Litelnoni, M.Psi., Psikolog, serta diikuti oleh Srikandi, termasuk karyawati, dan anggota PIKK. Program Inspiring Srikandi sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Srikandi Movement 2025. 

MANADO - PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sulawesi Utara, Tengah, dan Gorontalo (Suluttenggo) kembali menggelar program Inspiring Srikandi sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Srikandi Movement 2025. 

Program ini dalam upaya mendukung pemberdayaan perempuan dan memperkuat peran strategis mereka di dunia kerja dan kehidupan sosial. 

Dengan tema "Strong Women in the Modern Era: Maintaining Balance, Building Resilience", acara ini menghadirkan pembicara inspiratif, yaitu A. Fielia Litelnoni, M.Psi., Psikolog, serta diikuti oleh seluruh Srikandi PLN, termasuk karyawati, Tenaga Alih Daya (TAD) perempuan, dan anggota PIKK.

Mengawali kegiatan, Usman Bangun, General Manager PLN UID Suluttenggo, menyampaikan apresiasi mendalam terhadap inisiatif Srikandi PLN yang konsisten memberdayakan perempuan dari berbagai lini.

Srikandi bukan hanya simbol kekuatan, tapi juga refleksi dari ketangguhan, ketulusan, dan kecerdasan perempuan dalam menghadapi tantangan zaman. Di tengah perubahan yang begitu cepat, perempuan PLN telah membuktikan mampu hadir sebagai solusi, baik dalam lingkup pekerjaan maupun kehidupan sosial. 

“Melalui program Inspiring Srikandi, kami ingin mendorong setiap perempuan di PLN agar terus tumbuh dan berdaya, bukan hanya sebagai profesional, tetapi juga sebagai agen perubahan di masyarakat,” jelas Usman dalam rilis yang diterima Tribun Manado, Kamis (28/8/2025). 

Senada dengan itu, Priska Kawatu, selaku Srikandi Champion UID Sulutenggo, menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang berbagi inspirasi, tetapi juga sebagai momentum reflektif untuk memperkuat peran perempuan dalam berbagai aspek kehidupan.

Menjadi Srikandi adalah panggilan hati. Ini bukan soal jabatan atau posisi, tetapi soal komitmen untuk terus belajar, berbagi, dan membawa dampak positif. Di era modern, tantangan perempuan semakin kompleks, mulai dari tekanan profesional, tanggung jawab keluarga, hingga ekspektasi sosial yang terus berubah. 

“Namun, di balik semua itu, perempuan Indonesia—terutama di PLN—terbukti mampu tampil kuat, adaptif, dan penuh semangat. Melalui acara ini, kami berharap semangat itu terus menyala,” kata Priska.

Mengangkat dua topik utama, A. Fielia Litelnoni, M.Psi., Psikolog, memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana perempuan bisa tetap tangguh dan seimbang di tengah tekanan yang kerap datang dari berbagai arah.

Menghadapi Tekanan Ganda: Karier, Keluarga, dan Harapan Sosial. Menurut Fielia, tantangan perempuan di era modern bukan hanya pada bagaimana menuntaskan pekerjaan, tetapi bagaimana mereka dapat menjalankan banyak peran secara selaras.

Tekanan ganda dari karier, keluarga, dan norma sosial bukan untuk dihindari, tapi perlu dikelola dengan bijak. Banyak perempuan merasa terjebak antara tanggung jawab di rumah dan tuntutan pekerjaan. 

“Belum lagi, standar ideal dari media sosial menciptakan ekspektasi yang sering kali tidak realistis. Kunci utamanya adalah memahami bahwa keseimbangan bukan berarti membagi waktu sama rata, tetapi menyesuaikan dengan kebutuhan dan nilai-nilai hidup pribadi,” jelas Fielia.

Yang kedua tentang Resiliensi Perempuan di Era Serba Cepat. Lebih jauh, ia menyoroti pentingnya resiliensi bukan sekadar bertahan, tetapi kemampuan untuk bangkit dan berkembang dalam tekanan.

“Perempuan modern menjalankan banyak peran sekaligus. Mereka adalah profesional, ibu, pasangan, anak, dan juga bagian dari komunitas. Dalam peran majemuk ini, resiliensi menjadi bekal utama. Bukan hanya soal ketahanan mental, tapi juga kemampuan untuk menerima perubahan, belajar dari kegagalan, dan tetap menjaga identitas diri,” tambahnya.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved