Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

IAIN Manado

Pernyataan Akademik IAIN Manado Terkait Rencana Pemindahan Makam Kyai Modjo dan Imam Bonjol

IAIN Manado Minta Audiensi dengan Pangdam XIII Merdeka, Terkait Rencana Pemindahan Makam Kyai Mojo dan Imam Bonjol

|
Kolase/HO
PERNYATAAN - Foto Rektor Institut Agama Islam Negeri Manado Prof. Dr. Ahmad Rajafi, M.HI. IAIN Manado sampaikan pernyataan akademik IAIN Manado terhadap rencana pemindahan makam dua tokoh nasional, Kyai Mojo dan Tuanku Imam Bonjol, dari tanah Minahasa ke daerah asal masing-masing. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado hari ini Senin (4/8/2025) secara resmi menyampaikan surat permohonan audiensi kepada Panglima Kodam (Pangdam) XIII Merdeka. 

MANADO - Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado hari ini Senin (4/8/2025) secara resmi menyampaikan surat permohonan audiensi kepada Panglima Kodam (Pangdam) XIII Merdeka.

Dengan lampiran pernyataan akademik terhadap rencana pemindahan makam dua tokoh nasional, Kyai Mojo dan Tuanku Imam Bonjol, dari tanah Minahasa ke daerah asal masing-masing.

Pernyataan ini disampaikan dalam bentuk naskah akademik yang dikaji secara mendalam oleh para ahli di lingkungan IAIN Manado pada aspek historis, arkeologis, yuridis dan sosio-kultural dari keberadaan makam kedua tokoh tersebut. 

Baca juga: Ki Jaton Pamungkas, Keturunan ke-6 Kyai Modjo di Tondano Minahasa Tolak Makam Sang Pahlawan Dipindah

Penyusunan naskah ini secara langsung dipimpin oleh Prof. Dr. Ahmad Rajafi, M.HI selaku Rektor Institut Agama Islam Negeri Manado dan melibatkan para dosen dari berbagai ahli yaitu:

  • Dr. Sahari, M.Pd.I, (ahli Pendidikan Islam),
  • Ali Amin, Ph.D (Sosiologi),
  • Muh. Bekti Khudari Lantong, M.S.I (Antropologi),
  • Rahman Mantu, M.Hum (Resolusi Konflik),
  • Rusdiyanto, M.Hum (Sejarah Peradaban Islam dan
  • Imam Mash’ud, M.A (Arkeologi).

Dalam Pernyataan Akademik tersebut, IAIN Manado menegaskan, keberadaan makam Kyai Mojo di Kampung Jawa Tondano dan makam Imam Bonjol di Lotta Pineleng bukan sekadar lokasi pemakaman, melainkan simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan ruang spiritual yang telah menyatu dengan kehidupan masyarakat lokal selama lebih dari satu abad.

Mengacu pada perspektif ekoteologis yang diusung Kementerian Agama Republik Indonesia, IAIN Manado berpendapat bahwa pelestarian situs makam tokoh agama dan pejuang kemerdekaan merupakan bagian dari ibadah mu’amalah. Pemindahan makam tanpa mempertimbangkan kesakralan sejarah dan keterikatan budaya dinilai berpotensi merusak memori kolektif bangsa.

“Narasi pemindahan ini, bila diteruskan, justru dapat mengaburkan nilai-nilai perjuangan dan semangat kebangsaan yang telah terpatri di tempat pengasingan mereka,” kata Prof. Dr. Ahmad Rajafi, M.H.I.

Baca juga: Keluarga Juru Kunci Tolak Wacana Pemindahan Makam Imam Bonjol di Minahasa, Ini Alasannya

Dalam tinjauan sejarah, Kyai Mojo dan Imam Bonjol menjadi simbol keteguhan menghadapi kolonialisme. Pengasingan mereka ke Minahasa bukanlah kebetulan, melainkan strategi kolonial untuk memutus akar sosial-kultural perlawanan. Makam mereka kini menjadi ruang edukatif dan ziarah lintas agama, menjembatani solidaritas dan kerukunan antarumat di Sulawesi Utara.

Tim akademik IAIN Manado juga mengingatkan bahwa pemindahan makam berisiko menciptakan preseden yang dapat mereduksi makna kepahlawanan nasional menjadi isu kedaerahan. 

Selain itu, secara arkeologis, relokasi akan menghapus konteks spasial yang merekam jejak penderitaan dan perjuangan tokoh-tokoh tersebut.

Sebagai solusi alternatif, IAIN Manado merekomendasikan pembangunan monumen atau museum di daerah asal para pahlawan sebagai bentuk penghormatan tanpa harus memindahkan jasad mereka. 

Pemerintah daerah juga didorong untuk menjadikan situs makam di Minahasa sebagai Taman Edukatif Sejarah dan Destinasi Wisata Budaya yang lebih representatif.

“Makam kedua tokoh ini adalah ruang simbolik yang menguatkan semangat kebangsaan dan pluralitas Indonesia. Pemeliharaannya harus dilakukan dengan semangat inklusif dan kehati-hatian,” tutup naskah tersebut.

Dengan pernyataan ini, Rektor IAIN Manado mengajak seluruh elemen bangsa untuk melihat makam Kyai Mojo dan Imam Bonjol sebagai warisan nasional yang menyatukan, bukan memisahkan. (*)

Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved