Kamis, 23 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Gramedia Manado

Gramedia Bedah Buku Sehat Setengah Hati Karya dr Ray Basrowi di SMA Negeri 9 Manado

Dalam buku Sehat Setengah Hati, dokter lulusan Universitas Sam Ratulangi ini membeberkan, kondisi kesehatan anak dan remaja Indonesia.

|
Penulis: Fernando_Lumowa | Editor: Handhika Dawangi
Kolase/Tribun Manado/Fernando Lumowa
BEDAH BUKU - Ratusan siswa mengikuti Bedah Buku Sehat Setengah Hati karya dr Ray Basrowi bersama Gramedia Manado di SMA Negeri 9 Manado, Kamis (31/7/2025). 

MANADO, TRIBUN - Ratusan siswa SMA Negeri 9 Manado antusias mengikuti bedah buku bersama Gramedia Manado di Aula SMA N 9, Kelurahan Kleak, Kecamatan Malalayang, Manado, Kamis (31/7/2025). 

Dr Ray Wagiu Basrowi memaparkan latar belakang dan tujuan ia menulis buku Sehat Setengah Hati yang diterbitkan 16 Mei 2025.

Katanya, Indonesia akan mengalami bonus demografi. Fenomena itu harus dimanfaatkan untuk membentuk generasi Indonesia Emas pada 2045.

Sayang, visi itu penuh tantangan. Salah satunya dari sisi kesehatan yang butuh banyak pengembangan. 

Dalam buku Sehat Setengah Hati, dokter lulusan Universitas Sam Ratulangi ini membeberkan, kondisi kesehatan anak dan remaja Indonesia yang belum sesuai harapan. 

Di mana, tiga dari 10 anak Indonesia menderita stunting atau kurang gizi; dua dari lima balita dan remaja putri Indonesia anemia atau kekurangan zat besi. 

Kemudian, empat dari 10 remaja Indonesia mengidap TBC (penyakit paru). 

"Kondisi ini membuat tumbuh kembang anak dan remaja tidak maksimal. Terutama perkembangan otak," ujarnya. 

Ia juga mengungkapkan, hanya 6 persen orang Indonesia yang berolahraga rutin setiap hari.

Lalu satu dari tiga orang Indonesia adalah kaum rebahan yang malas gerak. Fakta mengejutkan lainnya, 50 persen penduduk Indonesia mengalami 'overthingking.'

"70 persen orang Indonesia perokok aktif. Itu yang menghambat pertumbuhan dan penyebab utama gangguan kesehatan," ujarnya. 

Dalam buku ini juga, dr Roy membagikan sejumlah hal praktis agar generasi muda sehat. 

"Bisa dimulai dari hal sederhana, makan yang sehat, sesuai kebutuhan, berolahraga dan selalu berpikir positif," jelasnya. 

Ia juga mengulas dampak negatif dari penggunaan media sosial berlebihan yang dapat menimbulkan gangguan 'brain rot' atau penurunan daya pikir kritis. 

Perilaku negatif juga masih menggerogoti anak muda karena rendahnya kepercayaan diri. Ini karena mereka tidak diarahkan dan didorong ke arah positif. 

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved