Sabtu, 30 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Thailand vs Kamboja

Akhirnya Terungkap Alasan Mengapa Thailand dan Kamboja Bertempur

Phnom Penh menuduh negara tetangganya itu melakukan penggunaan kekuatan secara berlebihan dan melanggar prinsip-prinsip kedaulatan.

Tayang:
Istimewa/HO
PERANG - Ketegangan lama di perbatasan Thailand dan Kamboja kembali meledak dalam pertempuran sengit yang menewaskan sedikitnya 12 orang pada Kamis (24/7/2025).  Akhirnya Terungkap Alasan Mengapa Thailand dan Kamboja Bertempur 

Kedua negara juga telah memperkuat kehadiran pasukan di sepanjang perbatasan dalam beberapa minggu terakhir.

Sejarah hubungan Thailand-Kamboja

Ini bukan pertama kalinya terjadi ketegangan antara Thailand dan Kamboja. Setiap kali tensi meningkat, biasanya disebabkan oleh sengketa perbatasan atau ketegangan politik, seperti:

• Pada 1958 dan 1961, Kamboja mengakhiri hubungan diplomatik dengan Thailand terkait sengketa Kuil Preah Vihear.

• Pada 2003, menyusul kerusuhan dan serangan terhadap Kedutaan Besar Thailand di Phnom Penh, Perdana Menteri Thailand saat itu, Thaksin Shinawatra, melancarkan Operasi Pochentong. 

Operasi ini mengirimkan pesawat militer untuk mengevakuasi semua warga negara dan diplomat Thailand dari Kamboja dan mengusir diplomat Kamboja sebagai balasan.

• Pada 2008 dan 2011, bentrokan militer pecah di Kuil Preah Vihear.

• Pada 2009, Thailand menurunkan hubungan sebagai tanggapan atas dukungan Kamboja terhadap mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra, yang saat itu sedang diasingkan.

Ke mana arah konflik ini?

Perdana Menteri sementara Thailand, Phumtham Wechayachai, mengatakan sengketa dengan Kamboja tetap "sensitif" dan harus ditangani dengan hati-hati, serta sesuai dengan hukum internasional.

Di sisi lain, Perdana Menteri Kamboja Hun Manet mengatakan negaranya ingin menyelesaikan sengketa secara damai. 

Mereka mengaku "tidak punya pilihan" selain "menanggapi agresi bersenjata dengan kekuatan bersenjata".

Pada masa lalu, meskipun telah terjadi saling serang yang serius, situasi-situasi tersebut mereda relatif cepat.

Pada pertikaian saat ini, kedua negara kekurangan pemimpin yang punya kekuatan dan keyakinan untuk mundur dari konfrontasi, walau tampaknya pertempuran terkini tak akan meluas menjadi perang besar-besaran.

Hun Manet, putra dari seorang mantan penguasa yang kuat, belum benar-benar punya otoritasnya sendiri. 

Ayah Hun Manet, Hun Sen, tampaknya bersedia memperdalam konflik ini untuk memperkuat reputasi nasionalisnya.

Di Thailand, pemerintahan koalisi saat ini tampak rapuh.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved