Beras Premium Oplosan
Jangan Tertipu! Begini Cara Sederhana Bedakan Beras Premium dan Oplosan
Tak sedikit beras berkualitas rendah dijual dengan harga tinggi hanya karena tampilan kemasannya yang meyakinkan.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Di tengah maraknya peredaran beras oplosan yang dikemas menyerupai beras premium, masyarakat diimbau untuk lebih waspada dan teliti sebelum membeli.
Tak sedikit beras berkualitas rendah dijual dengan harga tinggi hanya karena tampilan kemasannya yang meyakinkan.
Padahal, ada cara sederhana yang bisa digunakan untuk membedakan keduanya.
Baca juga: Daftar 10 Produk AS yang Kini Bebas Bea Masuk ke Indonesia, dari Kedelai hingga Pesawat Boeing
Salah satu indikator utamanya adalah jumlah patahan atau "broken" dalam butiran beras.
Semakin tinggi kadar patahan, semakin rendah pula kualitas beras tersebut. Sebaliknya, beras premium memiliki kadar patahan yang sangat minim dan bentuk butirannya lebih utuh dan seragam.
Dengan mengenali ciri-ciri fisik ini, konsumen dapat lebih cermat dan terhindar dari praktik curang yang merugikan.
Hal ini disampaikan langsung oleh Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, saat konferensi pers di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (17/7/2025).
“Pertama, lihat broken-nya. Beras premium itu utuh, patahannya sedikit. Kadar airnya pun rendah, maksimal 14 persen,” ujar Amran.
Butiran Patah Jadi Penentu Utama Kualitas
Senada dengan Amran, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi, menegaskan bahwa persentase patahan beras merupakan indikator utama untuk mengidentifikasi mutu beras.
“Kalau patahannya banyak, sampai 25 persen, itu bukan premium, tapi beras medium. Sedangkan beras premium harus didominasi butir utuh,” jelas Arief.
Menurutnya, konsumen perlu memahami parameter ini agar tidak tertipu dengan tampilan atau kemasan yang seringkali menyesatkan.
Sebagai acuan resmi, masyarakat juga diminta merujuk pada Peraturan Badan Pangan Nasional RI Nomor 2 Tahun 2023 tentang Persyaratan Mutu dan Label Beras.
Panduan Resmi Perbedaan Kualitas Beras
Berdasarkan regulasi tersebut, berikut kriteria teknis perbedaan empat kategori beras berdasarkan komposisi butiran:
- Butir patah: maksimal 15 persen
- Butir menir: maksimal 0,5%
- Butir gabah dan benda lain: 0%
- Butir lainnya: maksimal 1%
2. Beras Medium
- Butir patah: hingga 25%
- Butir menir: maksimal 2%
- Gabah: maksimal 1%
- Benda lain: maksimal 0,05%
3. Beras Submedium
- Butir patah: hingga 40%
- Butir menir: maksimal 4%
- Gabah: maksimal 2%
4. Beras Pecah
- Butir patah: lebih dari 40%
- Butir menir: maksimal 5%
- Gabah: maksimal 3%
Seluruh kategori diharuskan memiliki kadar air maksimal 14 persen dan derajat sosoh minimal 95 persen untuk menjamin kualitas konsumsi dan daya simpan.
Harga Bisa Jadi Petunjuk Tambahan
Selain dari sisi fisik beras, masyarakat juga bisa menggunakan harga pasar sebagai petunjuk awal.
Umumnya beras premium dijual dengan harga antara Rp 14.000–Rp 16.000/kg, sedangkan eras medium berada di kisaran Rp 12.000/kg
Harga yang jauh di bawah standar premium namun diklaim sebagai beras berkualitas tinggi patut dicurigai sebagai beras oplosan atau rekondisi.
Arief Prasetyo Adi mengimbau agar masyarakat lebih teliti dan berani menanyakan komposisi mutu saat membeli beras, terutama di pasar modern atau toko pengecer.
“Kami terus melakukan pengawasan mutu dan pelabelan. Tapi konsumen juga harus aktif. Cek patahan beras, cek harga, dan jangan ragu lapor jika ada yang mencurigakan,” ujarnya.
Pemerintah berkomitmen menjaga ketahanan pangan dan kepercayaan konsumen melalui edukasi publik dan pengawasan pasar yang berkelanjutan.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com
-
Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.
Baca berita lainnya di: Google News
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/PASAR-BERSEHATI-Harga-beras-di-Pasar-Bersehati-Manado-Sulawesi-Utaralo0.jpg)