Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

WNI di Kamboja

Beda Penyebab Prayogi Lasabuda Ingin Pulang dari Kamboja, Bukan Lantaran Disiksa, Dibeber Orang Tua

Menurut sang ayah, Juandri Lasabuda, anaknya yang akrab disapa Yogi itu sebelumnya berangkat ke Kamboja dengan niat bisa bekerja.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Alpen Martinus
Tribun Manado/Diki Gobel
KAMBOJA - Orang Tua Prayogi Lasabuda saat menceritakan kronologi bagaimana anak mereka memutuskan ke Kamboja dan kini tak bisa pulang, Selasa 29 April 2025. Mereka juga mengungkapkan alasan keinginan mereka untuk pulang 

TRIBUNMANADO.COM- Banyak Warga Negara Indonesia (WNI) yang ingin kembali setelah bekerja di Kamboja.

Termasuk warga Bolaang Mongondow Raya (BMR). Ada beberapa yang sudah bekerja di sana.

Banyak yang minta dipulangkan lantaran mengaku mendapatkan penyiksaan dan gaji yang tidak sesuai.

Baca juga: Keluarga di Kotamobagu Sulawesi Utara Cerita Kronologi Keberangkatan Prayogi Lasabuda ke Kamboja

Agak berbeda dengan beberapa warga BMR yang melarikan diri dari tempat bekerja.

Bukan lantaran mendapat penyiksaan di tempat bekerja.

Lantaran mereka tidak tahan bekerja menipu orang, termasuk judi online.

Orang tua dari Prayogi Lasabuda, pemuda asal Kelurahan Upai, Kecamatan Kotamobagu Utara, Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara (Sulut) mengaku kebingungan karena anaknya yang kini berada di Kamboja belum bisa kembali ke tanah air akibat keterbatasan biaya.

Menurut sang ayah, Juandri Lasabuda, anaknya yang akrab disapa Yogi itu sebelumnya berangkat ke Kamboja dengan niat bisa bekerja.

Namun, kini ia justru ingin pulang usai melarikan diri dari tempat kerjanya bersama empat orang rekannya yang juga berasal dari Sulut.

“Mereka ada lima orang, dua dari Bolsel, dua dari Manado, dan Yogi. Sekarang mereka tinggal di penginapan, menunggu waktu untuk ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kamboja,” kata Juandri saat ditemui, Selasa (29/4/2025).

Juandri menuturkan bahwa anaknya tidak mendapat intimidasi ataupun perlakuan kasar selama bekerja di luar negeri.

Namun, Yogi mengaku sudah tidak tahan bekerja di tempat yang menurutnya hanya melakukan praktik penipuan.

“Katanya dia tidak mau lagi kerja di tempat seperti itu. Bukan karena disiksa, tapi karena merasa tidak nyaman dan tidak cocok. Katanya itu pekerjaan tipu-tipu (judol),” ucapnya menambahkan.

Saat ini, kelima pemuda tersebut tengah berupaya mencari jalan keluar untuk bisa pulang.

Sayangnya, keluarga Yogi di Kotamobagu tak memiliki dana untuk membeli tiket kepulangan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved