Kuliner
Sejarah dan Keunikan Rumah Makan Heng Mien, Kuliner Legendaris di Tepi Jurang Tomohon Sulawesi Utara
Namun Januari 2025, RM Heng Mien mengalami kebakaran hebat yang menghanguskan bagian dalam bangunan.
Penulis: Petrick Imanuel Sasauw | Editor: Isvara Savitri
Bagi pecinta kuliner ekstrem, RM Heng Mien juga menyediakan hidangan unik seperti ular, kelelawar, dan tikus hutan yang dimasak dengan bumbu rica-rica khas Minahasa.
Namun, menu ini hanya tersedia melalui pemesanan khusus beberapa hari sebelumnya.
Selain sajian kulinernya yang khas, RM Heng Mien juga menawarkan pemandangan indah dari ketinggian bukit.
Dari rumah makan ini, pengunjung dapat menikmati panorama Kota Manado dari kejauhan, menjadikannya tempat yang cocok untuk bersantap sambil menikmati suasana alam yang sejuk.
Sejarah Kuliner di Tinoor
Baca juga: Prakiraan Cuaca di Sulawesi Utara Besok Rabu 19 Februari 2025, Info BMKG Manado Potensi Hujan Petir
Baca juga: Gaji dan Fasilitas PPPK Paruh Waktu, Ini Jenjang Kariernya
Menurut seorang peneliti sejarah Tomohon, Judi Turambi, rumah makan di Tinoor telah ada sejak jalan Manado-Tomohon belum diaspal.
Awalnya, rumah makan di daerah ini hanya berupa gubuk atau sabuah dalam bahasa lokal.
Pada tahun 1927, usaha rumah makan di Tinoor mulai dirintis oleh Kaes Evenglien Rambing, cucu dari seorang hukum tua (kepala desa/lurah) bernama Bastian Rambing.
Saat itu, tempat makan masih berbentuk sabuah yang terletak di sisi kiri jalan menuju Manado.
Kala itu, para pedagang dari Sonder, Remboken, dan Tomohon yang menggunakan gerobak sapi sering singgah untuk menikmati hidangan seperti kawok (tikus kebun), peret (kelelawar), nasi bungkus, serta minuman saguer (air sadapan pohon aren).
Sumber lain menyebutkan bahwa sejak zaman Belanda sebelum tahun 1930, masyarakat Tinoor sudah berjualan makanan di jalan utama yang mengarah ke Lotta dan Kali.
Jalan ini dikenal dengan "jalan tangga-tangga" dan terdapat beberapa sabuah atau warung kecil tempat mereka berjualan.
Pada sekitar tahun 1930-an, Jalan Raya Manado-Tomohon mulai dibuka, dan usaha rumah makan di kawasan Tinoor semakin berkembang.
Salah satu rumah makan pertama yang berdiri pada tahun 1944 di masa penjajahan Jepang adalah Rumah Makan Eli Non, yang kemudian berganti nama menjadi Tambulinas.
Menurutnya, ada kepercayaan bahwa rumah makan di Tinoor harus memiliki koki dari daerah tersebut agar usahanya sukses.

Daftar Menu Baru di Bisto Restauran Lion Hotel Manado, Citarasa Nusantara dengan Harga Terjangkau |
![]() |
---|
Pong Buri, Warung Makan Legenda di Rantepao Toraja Utara Sulsel, Jadi Favorit Gubernur Sulut YSK |
![]() |
---|
Temukan Keunikan Oleh-Oleh Produk Lokal di DeHarvest Tomohon Sulawesi Utara, Ini Daftarnya |
![]() |
---|
Klappertaart Christine, Oleh-Oleh Asli Manado Sulawesi Utara yang Wajib Dicoba |
![]() |
---|
Renyahnya Bisnis Panada Tore Tinelo, Siap Merambah Pasar Nasional |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.