Petani di Sulut
Kisah Marteni, Belasan Tahun Jadi Petani Gula Aren di Minahasa
Marteni Peony, seorang petani gula aren di Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut), masih menekuni pekerjaannya di usia 60 tahun.
Penulis: Yeshinta Sumampouw | Editor: Yeshinta Sumampouw
TRIBUNMANADO.CO.ID - Marteni Peony, seorang petani gula aren di Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut), masih menekuni pekerjaannya di usia 60 tahun.
Hampir setiap hari, lansia yang akrab disapa Teni ini menempuh jarak sekitar 2 kilometer dari rumah, untuk memproduksi gula aren di kebun miliknya.
Aktivitas ini sudah dilakukannya sejak belasan tahun silam.
Saat ditemui tribunmanado.co.id, Jumat (31/1/2025) di kebunnya, di Desa Kinaleosan, Kecamatan Kombi, Teni menceritakan tentang kisahnya sebagai petani gula aren atau gula merah.
Sebelum menjadi petani gula aren, Teni ternyata bekerja sebagai tukang bangunan.
Namun karena mulai sepi job, ia pun memutuskan untuk alih profesi jadi petani gula aren.
Ia kemudian mempelajari cara membuat gula aren dari iparnya, yang sudah lama menekuni usaha tersebut.
Di dalam pondok kayu berukuran 5 x 5 meter yang dibangunnya di kebun, Teni hampir setiap hari berhadapan dengan tungku pembakaran, wajan besar, dan nira yang harus selalu diaduk.
Ia mencetak satu per satu gula aren yang menjadi sumber pendapatannya.
Proses pembuatan gula aren oleh Teni masih dilakukan secara tradisional.
Menurut Teni, tidak mudah untuk menghasilkan gula aren yang memiliki kualitas yang baik.
Dibutuhkan ketelatenan mulai dari awal pembuatan hingga gula aren jadi dan siap dijual ke konsumen.
Setiap pagi dan sore, Marteni akan mengambil nira pohon aren.
Nira tersebut kemudian dimasak hingga siap untuk dicetak menjadi gula aren.
Saat ini, Marteni hanya dapat mengambil nira dari dua pohon aren saja.
"Sebelum-sebelumnya ada sampai lima atau enam pohon," terangnya.
Nira dari dua pohon aren tersebut dapat menghasilkan sekitar 5 kilogram gula merah.
Hasil olahan nira aren ini dijualnya di warung dengan harga berkisar Rp 18.000 hingga Rp 20.000 per kilogram.
Dari hasil jual gula aren tersebut Marteni mampu menghidupi keluarganya hingga kini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Marteni-Peony-Petani-Gula-Aren-di-Minahasa.jpg)