Selasa, 21 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Ikan Purba di Laut Sulawesi

Tim Peneliti Unsrat Manado Ungkap Fakta Kemunculan Coelacanth, Libatkan Peneliti Internasional

Peneliti menduga kehamilan ini menjadi salah satu penyebab ikan muncul di permukaan laut. 

Kolase/HO
Tim Peneliti Unsrat Manado yang dipimpin Prof Alex Masengi saat tiba dilokasi penemuan ikan coelacanth di Gorontalo. Tim Peneliti Unsrat Manado Ungkap Fakta di Balik Kemunculan Coelacanth. 

MANADO, TRIBUN – Penemuan ikan purba Coelacanth (Latimeria menadoensis) di Atinggola, Gorontalo Utara, oleh nelayan Oscar Kaluku (53) menjadi perhatian internasional.

Berdasarkan analisis awal tim peneliti Unsrat, ikan tersebut diduga sedang hamil.

Menurut Ixchel F. Mandagi, Peneliti Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unsrat, dugaan ini muncul setelah melihat foto ikan yang memperlihatkan perut besar. 

"Dugaan ini diperkuat oleh (informasi dari) para peneliti internasional seperti Prof. Kerry Sink (Afrika Selatan), Dr. Masamitsu Iwata (Jepang), dan Dr. Femmy Hukom (BRIN)," kata dia.

Sebelumnya, kasus serupa terjadi pada tahun 2007, ketika seekor Coelacanth betina ditemukan di perairan Manado dengan 26 telur di dalam tubuhnya.

Peneliti menduga kehamilan ini menjadi salah satu penyebab ikan muncul di permukaan laut. 

Namun, luka di bagian rahang akibat pengangkatan dengan pengait dan perubahan suhu habitat menjadi penyebab utama kematian ikan tersebut.

Penemuan ini mendorong penelitian lebih lanjut dimana Tim Unsrat berkoordinasi dengan sejumlah pihak.

Termasuk koordinasi dengan Prof. Yutaka Takeuchi (Kanazawa University, Jepang) dan organisasi internasional seperti Coelacanth Conservation Council (CCC), untuk memastikan spesimen ini terjaga.

Selain itu, sosialisasi kepada nelayan setempat untuk tidak secara sengaja menangkap ikan purba ini terus dilakukan. 

“Coelacanth adalah spesies yang dilindungi dunia, termasuk dalam Appendix I CITES. Kami berharap penemuan ini meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian spesies langka,” ujar Prof. Alex Masengi kepada Tribunmanado.co.id (Senin 20/1/2025).

Menurut Prof Masengi yang juga Ketua International Coelacanth Research Center and Marine Museum Unsrat, penemuan ini sangat penting karena Coelacanth biasanya hidup di kedalaman 150–500 meter.

Kemunculannya di permukaan laut menjadi tanda tanya besar yang membutuhkan penelitian lebih lanjut. 

Sebelumnya, pada Agustus 2024, tim Unsrat menemukan 17 individu Coelacanth hidup di kedalaman 150–165 meter di sekitar Pulau Talise menggunakan kapal riset OceanXplorer.

Penemuan ini menjadikan spesimen ke-9 Coelacanth yang ditemukan di Indonesia. 

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved