Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Ceramah Islam

Menjadikan Setiap Detik Berharga dalam Ibadah

Maka persiapkanlah diri Anda untuk menghadapinya dengan mengisi kehidupan ini dengan niat yang baik dan memperbanyak ibadah.

Editor: Isvara Savitri
HO
Ustaz Adi Hidayat. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Kematian adalah pintu menuju kehidupan yang kekal.

Setiap detik yang kita jalani di dunia ini adalah kesempatan untuk memperbaiki diri dan mempersiapkan diri untuk perjalanan selanjutnya.

Ingatlah bahwa dunia ini hanya sementara. 

Setiap perbuatan baik yang kita lakukan akan menjadi cahaya di hari kiamat, dan setiap perbuatan buruk menjadi pengingat untuk bertaubat.

Jangan takut mati, Jangan takut akan kehidupan yang tidak berarti.

Jadikanlah semua amal perbuatan bermakna dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kematian tidak memilih waktu dan tempat.

Maka persiapkanlah diri Anda untuk menghadapinya dengan mengisi kehidupan ini dengan niat yang baik dan memperbanyak ibadah.

Hiduplah seakan-akan hari ini adalah hari terakhir Anda.

Maka Anda akan menghargai setiap momen dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ustadz Adi Hidayat
Ustadz Adi Hidayat (YouTube Adi Hidayat Official)

Penjelasan tersebut ada dalam akun YouTube Adi Hidayat Official tentang Hikmah Kematian untuk kita yang Masih Hidup.

Ceramah tersebut sudah ditayangkan pada 12 Juni 2024.

Berikut isi ceramahnya:

Nabi Muhammad SAW pernah menyampaikan sebuah hadist yang sangat bagus, yang singkat namun padat.

Jadi, tidak ada manusia yang sempurna dan setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan.

Ketika seseorang meninggal, aktivitasnya berhenti dan tidak ada kemungkinan untuk melakukan kesalahan.

Jadi, jika orang yang masih hidup berbicara tentang kesalahan orang yang sudah meninggal, maka hidup sebenarnya adalah takman.

Karena orang yang masih hidup masih memiliki kemungkinan melakukan kesalahan, namun orang yang sudah meninggal tidak lagi memilikinya.

Carilah kemungkinan takwa dan sebarkanlah dengan menyebarkan kebaikan-kebaikan orang yang telah meninggal.

Sangat menarik bahwa jika kita melakukan hal tersebut, kita dapat memetik pahala dari apa yang dia lakukan dari kebaikan yang menjadi cahaya bagi orang yang telah meninggal di alam kubur. 

Baca juga: Harta Kekayaan Max Kembuan Dewan Komisaris Bank SulutGo, Punya Tanah Senilai Rp 24 M dan Kas Rp7,8 M

Baca juga: Benny - Bobby Janjikan Sinergi Pemerintah : dari Pusat hingga Kota, Demi Manado Lebih Sejahtera 

Kemudian, jika Anda membaca ayat kedua dari Al Quran, Surat Al-Mulk ayat 29, ada kata-kata yang sangat kuat.

Allah SWT-lah yang menciptakan kematian dan kehidupan.

Ada ilmu dalam membaca, dan pada tingkat sastra ada cabang ilmu yang disebut ilmu Baraga.

Ada tiga cabang ilmu: ilmu ma'ani, yang mempelajari kata; ilmu bayan, yang mengkomunikasikan dengan jelas; dan ilmu badia, yang menghiasi apa yang jelas dengan cara yang nyaman.

Memang, iman itu jelas dan menyampaikan getahnya dengan lurus dan bersih, tetapi tulisannya tidak bagus.

Oleh karena itu, dimodifikasi menjadi bentuk yang indah sehingga tidak membuat tidak nyaman.

Ilmu Badi memiliki turunan dari ilmu Bayan baraga yang disebut Takdim wa Takhil.

Mengapa hidup berakhir di sini, dan mengapa saya menggunakan Arif Hayat, mengacu pada sifat manusia yang secara psikologis cenderung ingin hidup lebih lama.

Seperti halnya semua orang yang berumur panjang, ketika orang merasa ingin hidup lebih lama mereka tidak menyadari bahwa kematian datang lebih cepat dari yang diharapkan.

Itulah sebabnya sering dikatakan bahwa jika Anda berencana untuk melakukan sesuatu yang tidak baik, Anda harus merasakan momen ketika kematian datang untuk Anda.

Ustaz Adi Hidayat (UAH)
Ustaz Adi Hidayat (UAH) (Tribunnewswiki.com)

Namun, yang penting adalah ketika orang lain meninggal sebelum kita.

Karena kita berlatih untuk menguji Anda yang masih hidup, mereka yang telah meninggal dunia kata Al-Quran akan selalu menjadi cermin ketakwaan, cermin ketakwaan di mana kita melihat diri kita sendiri untuk meningkatkan kebaikan kita karena ada kebaikan yang tidak bisa dibandingkan dengan persentase.

Jadi, jika seseorang meninggalkan kita misalnya, siapa pun dia, marilah kita melihat kebaikannya.

Mungkin karena ada contoh yang disajikan di hadapan kita yang mungkin bisa kita tiru.(*)

(Mahasiswa Magang Unima/Asari Jupuri)

Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved