Sejarah
Sejarah Hari Ini, 30 Agustus 1999 Referendum Timor Timur Digelar: Bersama Indonesia atau Merdeka
Timor Timur adalah wilayah yang telah memerdekakan diri dari Portugis sejak 28 November 1975, ketika FRETILIN mengumumkan terbentuknya Republik Demo
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Rizali Posumah
Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - 30 Agustus 1999 dicatat sejarah sebagai hari dimulainya referendum Timor Timur (sekarang Timor Leste).
Hari di mana rakyat Timor Timur harus memilih, apakah tetap bersama Indonesia, atau merdeka sebagai negara sendiri.
Sejatinya, Timor Timur adalah wilayah yang telah memerdekakan diri dari Portugis sejak 28 November 1975, ketika Front Revolusi Kemerdekaan Timor-Leste (FRETILIN) mengumumkan terbentuknya Republik Demokratik Timor Leste.
Namun, sembilan hari pasca proklamasi kemerdekaan itu, Pemerintah Republik Indonesia mengerahkan militernya untuk menduduki wilayah tersebut.
Pada tahun 1976, Indonesia mendeklarasikannya Timor Timur sebagai bagian dari Republik Indonesia.
17 Juli 1976 Timor Timur disahkan sebagai provinsi ke 27 Indonesia berdasarkan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1976.
Selama berada dalam kekuasaan pemerintah Republik Indonesia puluhan ribu orang Timor Timur tewas, sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang menolak aneksasi Indonesia.
Hal ini membuat tekanan dunia internasional terhadap pemerintah Indonesia meningkat.
Di sisi lain, meski bertahun-tahun wilayanya menjadi bagian dari Indonesia, kelompok pro kemerdekaan Timor Timur terus melakukan perlawanan bersenjata.
Wahasil pada 27 Januari 1999 Presiden Republik Indonesia, BJ Habibie meminta Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan untuk menengahi persoalan di Timor Timur.
Referendum
Dikutip dari Kompas.com Selain adanya penolakan dari sejumlah golongan di Timor Timur, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga sebenarnya tidak setuju dengan penyatuan Timor Timur dengan Indonesia.
Tekanan semakin meningkat saat negara-negara yang mulanya mendukung integrasi mulai mengubah sikapnya.
Kebijakan yang diambil Habibie terkait masalah Timor Timur adalah melaksanakan referendum atau jajak pendapat atau pemungutan suara.
Pada 27 Januari 1999, pemerintahan Habibie menawarkan dua pilihan bagi Timor Timur, yakni otonomi daerah atau kemerdekaan.
Sekjen PBB saat itu, Kofi Anan, menjembatani Indonesia dan Portugal soal Timor Timur.
Setelah itu kesepakatan tercapai dalam jajak pendapat konsultasi dengan masyarakat Timor Timur.
Dalam Midwifing a New State: The United Nations in East Timor karya Markus Benzing diungkapkan, pada 5 Mei 1999, dicapai kesepakatan antara Indonesia dan Portugal untuk membuat perjanjian referendum di Timtim.
Perjanjian ini dikenal sebagai New York Agreement.
PBB juga membentuk United Nations Mission in East Timor (UNAMET) untuk mengawal kesepakatan Indonesia dan Portugal dalam prosesnya menuju referendum Timtim.
Referendum akhirnya dilaksanakan pada 30 Agustus 1999 dan dilaksanakan dengan dua opsi.
Dua opsi itu, yaitu menerima otonomi khusus untuk Timtim dalam NKRI atau menolak otonomi khusus.
Adapun hasil referendum diumumkan di New York dan Dili pada 4 September 1999.
Isinya adalah bahwa hampir 78,5 persen penduduk Timor Timur ingin merdeka atau memisahkan diri, dan menolak tawaran otonomi khusus dari Indonesia.
Sikap MPR RI
Dilansir dari dari Kompas.com, Ian Martin dalam buku Self Determination in East Timor menyebut, hasil referendum menunjukkan bahwa sebanyak 94.388 penduduk atau sebesar 21,5 persen penduduk memilih tawaran otonomi khusus.
Sementara, 344.580 penduduk atau 78,5 persen dari total penduduk Timtim memilih untuk menolaknya.
Kemudian pada 19 Oktober 1999, Sidang Umum MPR menyetujui hasil referendum Timor Timur yang artinya Timor Timur lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Keputusan ini kemudian diatur dalam Ketetapan Nomor V/MPR/1999, yang menyatakan bahwa Ketetapan Nomor VI/MPR/1978 tentang Pengukuhan Penyatuan Wilayah Timor Timur ke dalam NKRI tidak berlaku lagi.
Xanana Gusmao pun dibebaskan setelah tujuh tahun menjadi tahanan politik di Jakarta.
Ia kembali ke Dili sebagai pemimpin dari Conselho Nacional de Resistencia Timorense (CNRT).
Melihat situasi dan kondisi yang ada, PBB memutuskan untuk mengizinkan pembentukan pasukan multinasional di bawah pimpinan Australia yang bernama International Force for East Timor (INTERFET). Pengizinan ini dilakukan untuk menjaga perdamaian dan keamanan di Timtim sementara waktu.
Kemudian, Xanana Gusmao pun dibebaskan setelah tujuh tahun menjadi tahanan politik di Jakarta.
Ia kembali ke Dili sebagai pemimpin dari Conselho Nacional de Resistencia Timorense (CNRT).
Masa transisi kemerdekaan Timor Timur
Penentuan pendapat di Timor Timur, 30 Agustus 1999, menghasilkan opsi Timor Timur merdeka. Menyusul opsi ini di Timor Timur terjadi kerusuhan hebat.
Human Rights Watch tahun 2011 melaporkan, dalam masa transisi setelah lepas dari Indonesia, PBB membentuk United Nations Transitional Administration in East Timor (UNTAET).
Badan ini dibentuk sebagai hasil dari Resolusi Dewan Keamanan PBB pada 25 Oktober 1999.
UNTAET bertanggung jawab penuh terhadap urusan administrasi Timtim selama masa transisinya menuju kemerdekaan.
Dikutip Harian Kompas, UNTAET terdiri dari sekitar 8.950 tentara, 200 pengamat militer, 1.640 polisi, dan sejumlah pejabat sipil.
UNTAET akan mengambil alih kekuasaan pasukan Interfet di bawah pimpinan Australia yang ditempatkan di Timtim
Dalam penentuan pendapat, 80 persen warga Timtim memilih memisahkan diri dari Indonesia. Kerusuhan dikobarkan kelompok milisi pro-Jakarta.
Sekjen PBB Kofi Annan saat itu memperkirakan masa transisi Timor Timur akan berlangsung selama dua sampai tiga tahun.
UNTAET, yang bertugas menjalankan pemerintahan transisi Timtim termasuk menjalankan sistem peradilan, akan mendapat mandat selama 14 bulan sampai tanggal 31 Januari 2001.
Persiapan kemerdekaan Timtim dimulai dengan diadakannya pemilihan konstituante pada 30 Agustus 2001.
SUMBER:
- https://www.kompas.com/tren/read/2022/10/19/083000165/sejarah-19-oktober-1999--hasil-referendum-timor-timur-diakui-indonesia?page=all
- https://www.kompas.com/stori/read/2022/04/11/100000279/kebijakan-habibie-dalam-masalah-timor-timur
Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.
Bergabung dengan WA Tribun Manado di sini >>>
Simak Berita di Google News Tribun Manado di sini >>>
Baca Berita Update TribunManado.co.id di sini >>>
| Begini Penuturan Saksi Mata Peristiwa Merah Putih di Teling Manado |
|
|---|
| Ini Lokasi Tepat Eks Tangsi Belanda di Teling, Saksi Sejarah Peristiwa Merah Putih Manado |
|
|---|
| Daftar Nama Pejuang yang Berperan dalam Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 di Manado |
|
|---|
| Jejak Sejarah Perang Dunia II di Manado: Dari Markas Rahasia hingga Penemuan Huruf Kanji |
|
|---|
| Penulis Asal Sulawesi Utara Ini Yakin, Minahasa Keturunan Dinasti Han Tiongkok |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Peta-wilayah-Timor-Leste-yang-berbatasan-dengan-Nusa-Tenggara-Timurty78.jpg)