Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kabinet Bagi-bagi Kue versi Prabowo, Pengamat: Pertanda Tak Mampu Kelola Perbedaan

Keinginan Presiden terpilih Prabowo Subianto merangkul seluruh kekuatan melalui 'bagi-bagi kue' kabinet dinilai negatif. Prabowo dianggap tak mampu.

Editor: Lodie Tombeg
Kolase Tribun Manado
Presiden terpilih Prabowo Subianto. Keinginan Prabowo merangkul seluruh kekuatan melalui 'bagi-bagi kue' kabinet dinilai negatif. Prabowo dianggap tak mampu. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, Jakarta - Keinginan Presiden terpilih Prabowo Subianto merangkul seluruh kekuatan melalui 'bagi-bagi kue' kabinet dinilai negatif. Prabowo dianggap tak mampu mengelola perbedaan hingga semuanya harus disatukan.

Prabowo seharusnya percaya diri. Apalagi Ketua Umum Partai Gerindra itu memperoleh kemenangan signifikan pada Pilpres 2024, yakni 58 persen dukungan publik.

Pengamat politik Lingkar Madani Indonesia, Ray Rangkuti komentari soal wacana penambahan jumlah kementerian di kabinet Prabowo-Gibran menjadi 40 kementerian.

Menurut Ray jika itu terjadi, Prabowo jelas ingin membagikan kue kekuasan kepada semua pihak.

"Akhirnya terbuka juga, Prabowo pada akhirnya ingin membagi kue-kue kekuasaan kepada banyak pihak," kata Ray dihubungi Selasa (7/5/2024).

Selain itu, ia juga menilai bahwa Prabowo tidak percaya diri mengelola pemerintah yang akan datang seperti pemerintahan saat ini. Sehingga dicarilah solusi membengkakkan kursi kabinet.

Baca juga: Masuk Bursa Kabinet Prabowo: Pengamat: Eko Patrio Cocok Menparekraf

"Dengan begitu setiap orang akan mendapatkan jatahnya masing-masing," jelasnya.

Jadi diikatkan Ray, keinginan untuk membengkakkan kursi kabinet itu. Pertanda awal kurang mampunya Prabowo pengelola perbedaan ataupun keinginan di dalam koalisi partai politiknya.

"Ini masa pemerintahan awal Pak Prabowo. Kalau sebelumnya di masa pemerintahan Pak Jokowi tidak ada kasus yang seperti sekarang," kata Ray.

"Artinya Pak Jokowi mampu mengelola kekuasaan itu dengan hanya mendasarkan diri kepada koalisi partai politik yang mengusungnya. Dan tidak ada penambahan kursi kabinet," lanjutnya.

Menurutnya jika Presiden Jokowi bisa tanpa menambah kementerian. Apa yang membuat Prabowo tidak bisa.

"Padahal dia (Prabowo) menang 58 persen, sementara dahulu Jokowi tidak sebesar itu menangnya. Tapi pada periode pertama Presiden Jokowi bisa kok tanpa harus menambah jumlah kabinet," jelasnya.

(Tribunnews.com Rahmat W Nugraha)

Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved