Pilpres 2024
Survei Pilpres 2024 versi Praxis PR : Hanya 20 Persen Terpengaruh Politik Uang
Survei yang dilakukan Praxis PR menunjukkan 42,96 persen mahasiswa tidak terpengaruh politik uang pada Pemilu 2024. Hanya 20,08 persen terpengaruh.
TRIBUNMANADO.CO.ID, Jakarta - Money politics (politik uang) tak ampuh! Survei yang dilakukan Praxis PR menunjukkan 42,96 persen mahasiswa tidak terpengaruh politik uang pada Pemilu 2024. Hanya 20,08 persen yang terpengaruh.
Director of Public Affairs Praxis PR dan Wakil Ketua Umum Public Affairs Forum Indonesia (PAFI) Sofyan Herbowo dalam keterangannya di Jakarta, Senin 22 Januari 2024 menjelaskan, praktik politik uang tidak mampu memengaruhi pilihan mahasiswa.
Dia berharap survei ini dapat mendorong mahasiswa untuk memilih dengan bijak demi menjaga keberlanjutan ekosistem demokrasi yang sehat.
Survei mengusung tajuk “Aspirasi dan Preferensi Mahasiswa pada Pemilu 2024”, yang dilakukan dengan pendekatan mixed method, menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif.
Riset tersebut merupakan kelanjutan dari riset yang dilaksanakan pada April dan Agustus 2023.
Riset kuantitatif survei dilaksanakan pada 1-8 Januari 2024 kepada 1.001 mahasiswa dengan rentang usia 16-25 tahun di 34 provinsi di Indonesia. Praxis kemudian berkolaborasi dengan Election Corner (EC) Fisipol UGM untuk mengkaji temuan kuantitatif dengan melakukan riset kualitatif pada 15 Januari 2024.
Riset berformat Focus Group Discussion (FGD) itu melibatkan empat akademisi dan mahasiswa perwakilan Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Mulawarman (Unmul), dan Universitas Nusa Cendana (Undana).
Hasil riset politik uang:
- Sebanyak 42,96 persen menerima uang tidak memilih kandidat
- Ada 20,08 persen menerima uang dan memilih kandidat
- Kemudian 10,99 persen tidak menerima uang dan tidak memilih kandidat
Temuan lainnya, kandidat dengan latar politisi mendapatkan preferensi tertinggi dari mahasiswa (20,88 persen), sementara figur publik/selebriti terendah (0,50 persen).
Media massa online menjadi sumber utama informasi politik mahasiswa (66,43 persen), sementara iklan out of home (OOH) seperti baliho kurang relevan (21,08 persen).
Saat melihat kandidat di media sosial, mahasiswa paling tertarik pada pernyataan kandidat (66,43 persen) dan kemampuan komunikasi publiknya (63,14 persen).
"Ini sejalan dengan preferensi kegiatan kampanye yang paling berpengaruh, yaitu debat terbuka, sebesar 69,93 persen, " kata dia. (Tribun)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/220124-tiga-paslon.jpg)