Boltim Sulawesi Utara
Produksi Cabe Rawit Mulai Berkurang, Petani di Boltim Kewalahan Hadapi Wabah Antranoksa
Iry memprediksi harga Cabe rawit di boltim akan sampai puncaknya pada bulan Desember.
Penulis: Teguh Putra Mamonto | Editor: Alpen Martinus
TRIBUNMANADO.CO.ID - Produksi cabe rawit di Bolaang Mongondow Timur (Boltim) alami penurunan.
Ini dikarenanakan serangan penyakit pada tanaman cabe rawit ketika musim hujan.
Hal ini diungkapan Iry Arianto Petani cabe rawit di Kabupaten Boltim.
Baca juga: Harga Cabai Rawit Tembus Rp 80 Ribu per Kilogram di Pasar Bersehati Manado Sulawesi Utara
"Curah hujan juga jadi masalah karena penyebarannya jadi sangat cepat di dalam tanah, apalagi kalau mau panen di saat hujan itu kalau salah sedikit semua bisa kena wabah busuk antranoksa yang bisa menyebar lewat sentuhan," jelas Arianto
Bahkan untuk sekali panen buah yang kena antranoksa bisa sampai 10-12 kilogram.
"Pernah panen 100 kilogram yang busuk antranoksa ada 12 kilogram, jadi untuk harga sekarang ruginya itu 700 ribu rupiah sampai 900 ribu rupiah," Ucapnya
Wabah ini juga disebabkan juga oleh kualitas pupuk dan pestisida petani.
"Sebenarnya bisa ditangulangi, tapi harga pestisida dan pupuk yang mahal menjadi hambatan juga, bayangkan harga pestisida 100 ribu rupiah terus 1 minggu itu harus 3 kali semprot," Tuturnya
Selain ada wabah antranoksa ada juga wabah lalat buah dan busuk akar.
"Selain itu ada juga wabah lainnya seperti lalat buah dan busuk akar tapi itu bisa di atasi dengan mudah," Ucapnya
Iry memprediksi harga Cabe rawit di boltim akan sampai puncaknya pada bulan Desember.
"Kayaknya Desember bisa tembus 100 ribu rupiah per kilogram, apalagi sudah mau Natal dan tahun baru," Pungkasnya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Petani-cabai-di-Boltim.jpg)