Cerita Perjalanan Soekarno
Soekarno Tinggal di Manado, ke Gorontalo dengan Pesawat Ampibi dan Nikahi Pramugari Asal Bolmong
Perjalanan Soekarno, pernah Tinggal di Manado, ke Gorontalo dengan Pesawat Ampibi dan Nikahi Pramugari Asal Bolmong atau Bolaang Mongondow.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Inilah jejak Soekarno di Manado dan daerah lain di Sulawesi Utara dan sekitarnya.
Di Manado Sulawesi Utara tak banyak jejak Soekarno.
Ada sebuah rumah tua yang menjadi tempat tinggal Soekarno saat bertandang ke Manado atau Indonesia Timur.
Rumah tua itu terletak di Kelurahan Tikala Baru Kecamatan Tikala.
Kini rumah itu tersembunyi di balik rapatnya pepohonan.
Saat tiba di rumah tua itu beberapa waktu lalu, pemandangan cafe di seperampat halamannya.
Bunga di tanah maupun di pot di sisa halaman.
Rumah tua itu bersusun tiga, bagian paling atas mirip menara. Bentuknya seperti rumah Belanda.
Tribunmanado.co.id dituntun oleh Elma Mozes. Dia adalah pemilik rumah tua itu.
Saat berada di balkonnya berasa seperti berada di atas kapal.
Ada pegangan besi yang menjadi pagar.
Ruangan itu memiliki ruang tamu, dua kamar serta dapur.

Pada dinding ruang tamu bertebaran foto ayah Elma yakni Corneles Mozes. Corneles adalah rekan baik Soekarno.
Soekarno tidur di salah satu kamar.
"Isinya hanya barang barang biasa," kata Elma.
Menurut Elma, rumah dan seluruh bagiannya belum dipugar sejak dibangun pada 1950.
Tribun mengetuk kayunya. Kayu itu sangat kuat.
"Paku pun mental," kata dia.
Elma bercerita, sang ayah adalah pengusaha galangan kapal satu-satunya di Sulut di tahun 50 an. Rumah itu pun dibuat model kapal.
Semua tamu yang datang ke Sulut pasti lewat sang ayah. "Mereka diantar ayah dengan kapal, untuk memancing dan lainnya, nginapnya adalah di sini," kata dia.
Salah satu tamu itu adalah Soekarno. Waktu kecil ia kerap mendengar cerita ayahnya tentang sosok proklamator itu.
"Ayah bangga bercerita pernah jamu Soekarno di rumah itu," katanya.
Ditanya cerita Soekarno pergi ke Nusa Utara apakah pakai kapal ayahnya, ia menyebut, mungkin saja.
"Ia satu satunya pengusaha galangan kapal di Sulut," kata dia.
Sebutnya banyak para pengagum Bung Karno yang mengunjungi rumah itu. Ada juga yang menjadikannya pra wedding.
"Banyak sekali yang kemari," kata dia.
Ia kerap berencana menata rumah itu. Tapi tak pernah terwujud.
"Saya sudah tua jadi lelah," katanya.
Elma membangun sebuah cafe di halaman rumah. Tujuannya untuk menularkan semangat cinta tanah air pada milenial. (Art/tribunmanado.co.id)

Soekarno ke Gorontalo dengan Pesawat Ampibi
Selain pernah ke Manado Sulawesi Utara, Soekarno juga pernah menginjakkan kakinya di Gorontalo.
Tempat yang pernah didatangi Soekarno, kini menjadi museum.
Museum Pendaratan Ampibi Soekarno.
Di tepian Danau Limboto, tepatnya di Desa Iluta, Kecamatan Batuda'a, Kabupaten Gorontalo, Presiden Republik Indonesia yang pertama, Soekarno, pernah menjejakkan kakinya di sana.
Soekarno untuk pertama kalinya berkunjung ke Gorontalo pada 1950 dan kembali lagi pada 1956. Kini, jejak Soekarno di tempat itu dibuat sebagai museum.
Museum itu bernama Museum Pendaratan Pesawat Ampibi.
Pasalnya, saat Soekarno berkunjung ke Gorontalo, dua kali menggunakan pesawat amfibi dan mendarat di Danau Limboto.
Kala itu, kedalaman Danau Limboto diperkirakan lebih dari 20 meter. Adapun museum tersebut berada sekitar 15 meter dari bibir danau.
Sejatinya, bangunan yang kini menjadi museum tersebut adalah rumah peninggalan Belanda yang dibangun pada 1936. Selanjutnya, pada 29 Juni 2002 rumah itu direnovasi dan diresmikan oleh Presiden RI yang kelima, Megawati Soekarnoputri, sebagai museum.
Museum itu didirikan untuk mengenang semangat juang Soekarno mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia seperti yang tercantum dalam papan nama museum.
Museum yang berupa rumah dengan arsitektur Belanda itu berukuran 5 meter x 15 meter. Ruangan di dalam museum terbagi menjadi dua sekat.
Satu ruang yang paling kecil sebelumnya berfungsi untuk toilet. Sisanya dipakai untuk memajang benda-benda kuno, seperti foto-foto Soekarno dan uang kertas di era awal kemerdekaan RI.
Foto dan uang kertas terpajang rapi pada semua bagian dinding museum. Di ruang beranda atau ruang tamu, ada kotak kaca berukuran 1 meter x 1 meter.
Kotak itu berisi tujuh buku dan satu radio transistor model kuno. Buku-buku yang dipajang mengisahkan tentang sosok Soekarno dan salah satunya adalah buku karya Soekarno yang terkenal, Di Bawah Bendera Revolusi, jilid pertama cetakan kedua.
Saat Kompas berkunjung ke museum itu akhir pekan lalu, kebersihan dan kerapian di dalam museum amat terjaga.
Lantai keramik warna putih tampak mengilap pertanda senantiasa disapu atau dipel. Langit-langit rumah cukup tinggi, yakni sekitar 5 meter, membuat udara di dalam ruangan menjadi lega atau tidak pengap.
”Saya menjaga dan membersihkan ruangan ini setiap hari. Tapi, tidak terlalu banyak tamu yang berkunjung ke sini,” ujar Mamin Adam (31), penjaga museum tersebut.
Dari buku catatan tamu, hanya sekitar 600 orang saja yang berkunjung ke museum sepanjang 2010. Lalu, jumlah itu meningkat menjadi sekitar 1.000 orang pada 2011.
Menurut Mamin, meningkatnya jumlah tamu karena pada Oktober 2011 ada hajatan peringatan Hari Pangan Sedunia yang diperingati di Indonesia dan dihadiri perwakilan dari 33 provinsi di Indonesia.
”Banyak perwakilan dari berbagai provinsi yang turut memperingati Hari Pangan Sedunia di Gorontalo saat itu singgah ke museum ini. Kalau dari warga Gorontalo sendiri, justru jarang yang berkunjung,” tutur Mamin. (tribunnews.com)
Menikah dengan Perempuan Asal Bolaang Mongondow Sulawesi Utara
Salah satu istri Soekarno adalah perempuan asal Sulawesi Utara, tepatnya Bolaang Mongondow.
Nama perempuan itu Kartini Manoppo. Dia dulunya pernah berprofesi sebagai pramugari.
Kartini adalah istri kelima Soekarno.
Kartini Manoppo lahir di tahun 1939.
Kartini Manoppo merupakan putri bangsawan Bolaang Mongondow.
Melansir Intisari, awalnya, Soekarno menghadiri sebuah pameran lukisan yang diselenggarakan oleh pelukis Basuki Abdullah pada 1959.
Saat melihat salah satu lukisan yang dipamerkan, Soekarno terpana.
Dia terkagum-kagum atas kecantikan wanita yang ada di lukisan tersebut.
Soekarno mengaku langsung jatuh cinta.
Dia lalu bertanya pada Basuki, siapakah sosok wanita di lukisan tersebut.
Basuki mengatakan, model yang dilukisnya adalah salah satu pramugari Garuda Indonesia.
Adalah Kartini Manoppo, wanita cantik putri keluarga bangsawan di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.
Pertemuan Kartini Manoppo dengan Soekarno
Suatu ketika, Kartini diminta untuk ikut ke penerbangan ke Surabaya.
Beberapa jam sebelum take off, seorang pejabat tinggi bertanya, "Siapa yang bernama Kartini Manoppo?"
Kemudian, Kartini diajak menghadap Bung Karno.
Kartini gemetar dan gugup.
Apa kesalahan yang diperbuatnya sampai harus dihadapkan ke presiden?
Kartini Manoppo, istri kelima Soekarno bersama putranya
Mendengar kalimat yang diucapkan Soekarno saat berhadapan dengannya, Kartini makin dibuat terkejut.
"Kamu Kartini Manoppo? Wah, aslinya lebih cantik dari lukisannya," kata Soekarno kala itu.
Sejak itu, Kartini tak pernah absen setiap Bung Karno melakukan kunjungan ke luar negeri.
Suatu ketika, Soekarno meminta Sekneg mengirim Kartini sebagai wakil Indonesia di Pasific Festival di San Fransisco, AS.
Sebelum berangkat ke AS, Kartini diminta datang ke Istana.
Di sana, Bung Karno memberi petunjuk apa saja yang mesti dilakukannya selama mengikuti festival.
Kemudian, Bung Karno mengajaknya berbincang ke ruang tamu.
Di ruangan tersebut, tiba-tiba Bung Karno mengutarakan perasaan cintanya pada Kartini.
Kartini kaget sampai gemetar.
Dia bingung luar biasa karena Soekarno meminta kepastian darinya saat itu juga.
Kartini menjawab, iya.
Namun, ia minta syarat, semua diperjelas menanti kepulangannya dari Amerika Serikat.
Kartini Manoppo Menikah dengan Soekarno
Sepulang dari AS, Kartini akhirnya menikah dengan Bung Karno.
Namun, keduanya tidak menikah secara resmi, hanya menikah siri.
Hal itu dikarenakan keluarga Kartini yang sangat terpandang awalnya tidak menyetujui.
Pantang bagi mereka putri kesayangannya menjadi istri kelima, meski pria tersebut seorang presiden.
Dari pernikahan itu, Kartini melahirkan seorang anak laki-laki yang dinamai Totok Suryawan Sukarno.
Anak tersebut lahir pada 17 Agustus 1967 di Nurenberg, Jerman.
Ya, saat Kartini hamil, Soekarno memang menyuruh istrinya melahirkan di Jerman.
Sebab, saat itu kondisi politik tidak kondusif dan Soekarno berada di akhir era kekuasaannya.
Setelah anaknya lahir, Kartini pulang ke Indonesia karena saking rindunya terhadap Indonesia dan Bung Karno. (grid.id)
Baca berita-berita terbaru Tribun Manado di: Google News
Baca juga: Perempuan Ini Dicurigai Lakukan Hal Terlarang dengan Ayah Kandung, Diduga Pemilik 4 Kerangka Bayi
Prakiraan Cuaca Bitung Besok Jumat 29 Agustus 2025, Info BMKG Semua Berawan |
![]() |
---|
Masih Jadi Misteri, HP Arya Daru yang Dikatakan Polisi Hilang Tiba-tiba Aktif Lagi, Medsosnya Online |
![]() |
---|
PLN UID Sulutenggo Dorong Resiliensi dan Keseimbangan Perempuan di Tengah Tantangan Zaman |
![]() |
---|
Prakiraan Cuaca Sulawesi Utara Jumat 29 Agustus 2025, Berikut Info BMKG |
![]() |
---|
Peringatan Dini Cuaca di Sulawesi Utara, Kamis, 28 Agustus 2025 |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.