Catatan Willy Kumurur
Final Liga Champions Manchester City vs Inter Milan, Pentas Para Penyair Bola
Erik ten Hag pernah mengatakan, “Guardiola hanya ingin memenangkan pertandingan dengan sepak bola yang indah, sama seperti gurunya Johan Cruyff."
Tim Pep Guardiola adalah orkestra yang sempurna yang dengan hebat menampilkan skor besar.
Dan sepak bola yang dihasilkan benar-benar surgawi; kesenangan bagi mata penonton, tulis Wakil Direktur koran Italia, La Gazzetta dello Sport, Andrea Di Caro, usai menyaksikan Real Madrid dihajar City dengan telak 0-4 di leg kedua semifinal.
Lalu, apakah karena kehebatan Manchester City sehingga Inter Milan hanya akan menjadi tumbal pada pertempuran di Stadion Atatürk Olympic?
Sepak bola adalah olahraga terindah di dunia karena tak bisa diprediksi. Melawan ahli strategi selevel Pep, pelatih Inter, Simone Inzaghi harus menjadi ahli taktik yang sempurna.
Kata Inzhagi, “Kami harus berhati-hati bermain, karena kami akan menghadapi tim terbaik, dengan skuat yang fantastis dan pelatih yang menandai sebuah era.”
Inter harus bermain tanpa kesalahan sedikit pun, tulis Di Caro. Setiap pertandingan dimulai dengan skor 0-0 dan tidak ada yang kalah sebelum bermain.
Byzantium atau Istanbul, Turki, adalah panggung drama final Liga Champions 2005 antara AC Milan dan Liverpool.
Kota yang pernah berganti nama menjadi Konstantinopel oleh kekaisaran Romawi, menyajikan drama.
AC Milan unggul 3-0 di babak pertama, namun mukjizat terjadi ketika Liverpool menyamakan skor 3-3 disusul perpanjangan waktu dan adu penalti.
The Reds menghancurkan sekaligus mengubur impian Milan dengan skor penalti 3-2.
Akan terjadi lagikah drama di Stadion Atatürk Olympic?
Riak air di Selat Bosporus yang membelah Istanbul menjadi dua, akan menari kegirangan menyambut kemenangan sang juara namun sekaligus berlinang air mata meratapi kekalahan sang pecundang.****
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Final-Liga-Champions-Manchester-City-vs-Inter-Milan.jpg)