Lokal Bercerita
Kuliner Ekstrem Daging Ular Piton, Salah Satu Masakan Khas Warga Manado Sulawesi Utara Sejak Dulu
Untuk memuaskan selera para penikmat daging ekstrem, ada rumah makan yang khusus mengolah kuliner ekstrem.
Penulis: Ferdi Guhuhuku | Editor: Rizali Posumah
Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Daging ular piton atau tenar disebut patola sejak dulu menjadi makanan khas bagi sebagian masyarakat di Kota Manado, Sulawesi Utara.
Untuk memuaskan selera para penikmat daging ekstrem, ada rumah makan yang khusus mengolah kuliner ekstrem.
Kuliner ini banyak ditemukan di rumah makan khas Minahasa.
Salah satunya, di rumah makan khas Minahasa yang ada di Kecamatan Malalayang, Kota Manado.
Martin salah satu penikmat daging ular piton mengatakan sejak dulu sudah mengonsumsi daging ekstrem.
Bahkan, hampir semua keluarganya makan daging ular piton.
"Karena kita asli Manado jadi hampir semua keluarga saya makan ular piton," kata dia. Rabu (26/4/2023).
Dia berkata bagi sebagian orang ular piton adalah hewan yang menakutkan, tetapi baginya makanan paling enak.
"Bagi saya daging ular paling enak dari daging lain. Apalagi dimasak satang kelapa rasanya sangat enak sekali," ucapnya.
Baca berita lainnya di: Google News.
Berita terbaru Tribun Manado: klik di sini
Ular Piton dari Sulsel Sultra Berakhir di Meja Makan Warga Minahasa
Mengkonsumsi daging satwa liar jadi kebiasaan orang Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara.
Menikmati menu yang terbuat dari daging satwa liar bagi orang Minahasa jadi prestis.
Jamuan pesta, Pengucapan Syukur, Natal dan Tahun Baru terasa lengkap jika ada hidangan daging ular patola (piton) di meja.
Selain itu, ada paniki (kelelawar), wio' (celeng/babi hutan) dan tikus hutan.
Daging patola (ular piton) selalu jadi favorit.
Biasanya dimasak rica-rica bercampur santan kelapa.
Meskipun demikian, sekarang ular tak hanya ekslusif menu favorit orang Minahasa.
Banyak juga non Minahasa suka makan ular. Menu ekstrim ini disukai banyak orang.
Manado jadi surganya pecinta daging ular patola.
Menu patola santang rica-rica mudah saja ditemukan di warung makan Selera Minahasa.
Tak banyak penikmat ular patola tahu, apa yang mereka santap datang dari jauh.
Daging ular itu 'diimpor' dari luar Sulawesi Utara.
"Ini dari Baubau, masuk dua hari lalu," kata Roy Nangka (43), penjual daging satwa liar di Pasar Beriman, Kota Tomohon, Selasa (26/04/2023).
Sebelum jadi santapan di meja makan, ular-ular itu harus menempuh perjalanan ribuan kilometer.
Ada yang dikirim dari Sulawesi Tenggara. Melewati perjalanan lebih dari 1.500 km.
Ada juga dari Mamuju, Sulawesi Barat. Berjarak 1.300 km lebih dari Manado.
Ular-ular piton itu dikumpulkan pengepul dari pemburu dan petani di Sulsel Sultra.
"Piton ini banyak di perkebunan sawit. Dulu orang sana tidak tahu harga. Dulu diberi cuma-cuma. Sekarang mereka jual ke pengepul," kata Roy.
Pria asal Kinilow, Tomohon Utara ini pernah melakoni profesi pedagang perantara daging satwa liar.
"Beberapa tahun lalu, sudah keliling Sulawesi," katanya sambil menajamkan pisau daging.
Roy dulu keliling daerah-daerah di Sulsel, Sultra untuk mencari ular, babi hutan, paniki dan lain-lain.
Sekitar 10 tahun terakhir pria berkuncir kuda ini menekuni berdagang daging satwa liar di Pasar Beriman Tomohon.
Katanya, ular patola laris manis ketika ada hajatan. Ular ludes ketika ada Pengucapan Syukur, Natal dan Tahun Baru.
"Berapapun yang kita ambil, pasti habis. Bahkan masih ada yang datang cari," katanya.
Untuk hari-hari biasa, penjualan fluktuatif. Biasanya ramai orang beli ular di Hari Sabtu atau Minggu.
Penjualan bisa 40-50 kg di akhir pekan.
"Ya hari biasa seperti ini kadang tidak ada sama sekali.
Biasanya yang ambil memang yang suka makan atau usaha rumah makan. Ya paling dua hingga tiga kilo," katanya.
Kata Roy, jika Pengucapan Syukur di Minahasa, bisa sampai 1 ton daging ular habis dalam sehari.
"Biasa itu Sabtu sebelum pengucapan besoknya," jelasnya.
Bagi yang baru pertama kali ke Pasar Beriman, pasti dibuat ngeri. Piton mati digelar begitu saja. Ada yang masih utuh, ada yang tubuhnya tinggal separuh.
Kulit ular bercorak bak batik membuat bergidik. Ketika pembeli datang, ular baru dipotong sesuai permintaan.
Setelah itu, kulitnya dibakar sampai gosong. Masuk tas plastik dan diserahkan ke pembeli.
Saat ini, sekilo daging piton dijual Rp 40 ribu per kg. Kalau hari raya, bisa naik Rp 50 ribu per kg.
Daging ular yang tidak habis terjual, kembali masuk freezer. "Pasti habis. Setelah itu ambil lagi," tuturnya.
Pedagang daging satwa liar di Pasar Beriman banyak. Jumlahnya belasan. Mereka mengambil ular dan lainnya dari pengepul.
Pengepul juga lumayan banyak. Ada di Tomohon, Sonder dan Kawangkoan. Roy biasa mengambil dari pengepul di Kawangkoan.
"Biasanya, kalau ada daging masuk, kita ke sana. Dicurah, kita pilih, bayar. Harga pengambilan pastinya di bawah harga jual," katanya lagi. (ndo/Edi)
Industri Rumah Panggung Woloan Tomohon Mendunia, Dikirim Hingga ke Argentina |
![]() |
---|
Cerita David Ngala, 10 Tahun Membuat Rumah Panggung Woloan di Tomohon Sulawesi Utara |
![]() |
---|
Mengenal Rumah Panggung Woloan Khas Minahasa yang Sudah Mendunia |
![]() |
---|
Kisah Pekerja Rumah Panggung Woloan Adri Uhing, Bisa Bangun Rumah Sendiri untuk Keluarga |
![]() |
---|
Pengusaha Rumah Panggung Woloan Johanis Sindim Raup Penghasilan Ratusan Juta |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.