Kamis, 23 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

BMKG

BMKG Jelaskan Analisis Fenomena Udara Panas yang Terjadi di Indonesia

Analisis dari BMKG terkait fenomena udara panas di Indonesia. Kondisi tersebut bukan termasuk gelombang panas.

Editor: Frandi Piring
via TribunJateng.com
Cuaca panas. BMKG Jelaskan Analisis Fenomena Udara Panas yang Terjadi di Indonesia. 

Sementara itu, menurut analisis indikator pengamatan suhu kejadian,

menunjukkan bahwa lonjakan suhu maksimum yang mencapai 37,2 derajat Celsius yang dilaporkan dari stasiun BMKG di Ciputat pada 17 April 2023.

Suhu tinggi tersebut sudah turun dan kini suhu maksimum teramati berada dalam ksiaran 34-36 derajat Celsius di beberapa wilayah.

Lebih lanjut Dwikorita mengatakan bahwa variasi suhu maksimum di Indonesia masih relatif normal dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, berkisar antara 34-36 derajat Celsius.

Secara klimatologi, di Jakarta sepanjang April-Mei-Juni, merupakan bulan-bulan yang mana suhu maksimum dapat mencapai puncaknya, selain Oktober-November.

Udara panas tidak terkait indeks UV

Selaih udara panas, akhir-akhir ini, laporan sinar UV tinggi juga disebut-sebut sebagai penyebab suhu panas di Indonesia.

Namun, BMKG menerangkan bahwa tinggi rendahnya indeks sinar ultraviolet (UV) tidak memberikan pengaruh langsung pada kondisi suhu udara di suatu wilayah.

(Ilustrasi) cuaca panas di Yogyakarta.
(Ilustrasi) cuaca panas di Yogyakarta. (TRIBUNJOGJA.COM / Ahmad Syarifudin)

Indonesia merupakan negara yang berada di wilayah tropis, sehingga pola harian seperti udara panas,

secara rutin dapat teramati dari hari ke hari meskipun tidak ada fenomena gelombang panas.

Selain itu, faktor cuaca seperti berkurangnya tutupan awan dan kelembapan udara dapat memberikan kontribusi lebih terhadap nilai indeks UV.

Artikel ini tayang di Kompas.com

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved