Sulawesi Utara
Pengalaman Warga Sulut Kerja di Jerman, Esther: Kuncinya Pahami Budaya dan Tingkatkan Etos Kerja
Pengalaman Esther Lumintang. Esther adalah warga Indonesia asal Sulawesi Utara yang bekerja di Jerman.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Asalkan legal, bekerja di luar negeri sangat menjanjikan. Gaji besar. Hak pekerja dijamin.
Seperti pengalaman Esther Lumintang. Esther adalah warga Sulawesi Utara yang bekerja di Jerman.
Sudah delapan tahun ia berada di negara tersebut.
"Ia bekerja sebagai perawat lansia atau dikenal dengan altenflege," kata sang suami Adi Turunan via WA Minggu (9/4/2023).
Menurut dia, pekerjaan ini beda dengan perawat biasa. Butuh keahlian khusus.
"Harus sekolah dulu selama 3 tahun namanya ausbildung," katanya.
Dari pekerjaan itu, sang istri bisa beroleh penghasilan sebesar 3000 Euro. Jauh lebih sejahtera dibanding di Indonesia.
"Mereka tiap tahun juga ada kenaikan gaji dan diberikan banyak waktu istirahat apalagi cuti untuk wanita jauh lebih lama," katanya.
Sebut dia, pajak di sana tinggi.
Namun itu sebanding dengan semua hak yang didapat disana.
Segala pencapaian itu tak diperoleh dengan mudah.
Pada masa awalnya di Jerman, Esther berjuang keras untuk menyesuaikan diri.
"Banyak kebiasaan dan budaya yang terbentuk selama hidup di negeri sendiri yang ternyata sangat tidak menguntungkan untuk dipraktekkan saat kita berada di negeri orang, terutama di negara maju," kata dia.
Kendala utama adalah bahasa. Esther berupaya keras mempelajari bahasa Jerman. Kemudian budaya.
"Layaknya negara maju pada umumnya, hidup di Jerman menuntut untuk hidup teratur, dalam arti bahwa segala aspek kehidupan di sini di atur secara hukum termasuk dalam hal kecil misalnya kehidupan sehari-hari, bertetangga, di jalan, di tempat kerja.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Banyak-warga-Sulawesi-Utara-yang-kerja-di-Luar-Negeri-termasuk-di-Negara-Jerman.jpg)