Citizen Reporter
Nahdlatul Ulama Manado Rihlah Ruhaniah di 1 Abad NU
Laporan Rois Syuriah NU Manado Buya Dr KH Ahmad Rajafi MHI dari Jawa Timur
Laporan: Buya Dr KH Ahmad Rajafi MHI
Rois Syuriahnya NU Manado
Melaporkan dari Jawa Timur
1 Abad NU yang diselenggarakan pada 16 Rajab 1444 H atau bertepatan 7 Februari 2023 adalah hari bahagia bagi seluruh warga NU (Nahdliyyin) di seluruh penjuru Indonesia.
Bahkan di berbagai negara melalui Pengurus Cabang Istimewa (PCI) Nahdlatul Ulama.
Karena hari tersebut pula merupakan langkah maju menjemput abad ke-2 perjalanan NU di dunia melalui jargon utamanya Mendigdayakan Nahdlatul Ulama, Menjemput Abad Kedua Menuju Kebangkitan Baru.
Saya selaku Rois Syuriah Pengurus Cabang NU Manado bersama rombongan memanfaatkan sela waktu acara resepsi puncak 1 Abad NU di Sidoarjo melakukan rihlah ruhaniah sekaligus napak tilas selama satu hari penuh atas sejarah terbentuknya NU.
Dengan cara menziarahi ulama-ulama yang memiliki peran penting dalam membidani lahirnya NU di Nusantara.
Rihlah pertama, kami menuju Bangkalan Madura untuk berziarah ke makam Al-'Alim Al-'Allamah Asy-Syekh Al-Haajj Muhammad Khalil bin Abdul Lathif al-Bangkalani al-Maduri al-Jawi asy-Syafi'i atau lebih dikenal dengan nama Syaikhana Khalil Bangkalan.
Beliau adalah sosok penting yang meridhai lahirnya NU dengan mengirimkan tongkat dan tasbih kepada muridnya Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari sebagai isyarat bahwa ridhanya akan menjadikan perkumpulan ulama ini sebagai maslahat besar bagi umat, bukan saja bagi Nusantara tapi juga dunia.
Baca juga: Ahmad Rajafi Daftar Bakal Calon Rektor IAIN Manado 2023-2027
Rihlah kedua, kami menuju Pondok Pesantren Tebuireng Jombang untuk menziarahi Rois Akbar NU atau Rois Aam pertama yakni Hadhratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy'ari beserta putranya KH. Wahid Hasyim dan cucunya KH. Abdurrahman Wahid.
Mbah Hasyim (sapaan masyarakat) beserta keluarganya adalah simbol kebesaran NU.
Tidak akan lahir Resolusi Jihad saat melawan penjajah Belanda sehingga seluruh santri dan masyarakat berani melawan penjajah kalau bukan karena fatwa beliau.
Tidak akan lahir sinergi yang baik antara Islam dan Nasionalisme di negara ini kalau bukan karena KH. Abdul Wahid Hasyim telah menerima Pancasila sekaligus menggagas lahirnya Kementerian Agama sebagai rumah besar umat Islam sekaligus pusat komunikasi dan koordinasi dengan agama-agama di luar Islam.
Tidak akan terjadi harmoni yang baik antara muslim dengan non-muslim di Indonesia, bahkan dengan mereka yang beragama Konghucu, kalau bukan karena KH. Abdurrahman Wahid telah mengimplementasikan nilai-nilai pluralitas dan menambahkan agama Konghucu sebagai agama resmi di Indonesia.
Rihlah selanjutnya, kami menuju Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang untuk menziarahi pejuang sekaligus Pahlawan Nasional (seharusnya juga internasional) yakni KH Abdul Wahab Hasbullah.
Beliau adalah motor penggerak organisasi NU pada masa awal yang tidak pernah lelah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/rois-syuriah-nu-manado-buya-dr-kh-ahmad-rajafi-mhi-melakukan-rihlah-ruhaniah.jpg)