Tajuk Tamu
Akankah Parpol Baru Mengubah Nasib Rakyat?
Menjelang Pemilu 2024, parpol baru menemui berbagai tantangan. Selain berhadapan dengan parpol lama, mereka juga harus menghadapi pemilih ideologis.
Penulis: Fernando_Lumowa | Editor: Isvara Savitri
Mereka dipecat atau tidak diperhitungkan lagi di parpolnya.
Kedua, parpol didirikan sebagai skenario untuk melemahkan atau memperkuat parpol lama.
Ketiga, parpol didirikan hanya untuk kepentingan bisnis oleh pendirinya.
Untuk menguasai dan memperluas area bisnis maka bergaining politik dibutuhkan.
Izin investasi berikut pengembagannya perlu berkolaborasi dengan penguasa.
Kelima, berdirinya parpol hanya sekadar alat bagi pendirinya untuk mendapatkan jabatan dan kekuasaan di pemerintahan.
Gerindra, Demokrat, PAN, PKB, Hanura, dan parpol lain didirikan karena ambisi pendiri untuk menjadi presiden.
Rakyat sesungguhnya nyaris belum diuntungkan dengan keberadaan parpol.
Suara rakyat yang diperoleh melalui pemilu hanya sebatas untuk siapa mendapat apa.
Lantas seberapa kuat peluang parpol baru paling tidak untuk mencapai ambang batas parliament treshold 4 persen perolehan suara?
Selain diuntungkan oleh popularitas, parpol lama memiliki pengalaman elektoral yang lebih mapan.
Mereka menguasai basis massa tertentu serta jejaring sosial yang tertata rapih.
Parpol lama juga sebagian besar terikat kepentingan yang sama dengan kelompok pemodal sehingga terbantu oleh aspek finansial untuk pembiayaan kampanye.
Baca juga: Gempa Bumi Hari Ini Selasa 27 Desember 2022, 8 Kali Guncang Wilayah Indonesia, Berikut Info BMKG
Baca juga: Quotes Resolusi Tahun Baru 2023 Bahasa Inggris, Cocok Dibagikan ke Sosial Media
Sebagai parpol lama, sebagian telah menguasai jabatan kepala daerah.
Pengalaman Pemilu 2019, parpol yang disokong kepala daerah mendominasi perolehan suara.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Ferry-Daud-Liando-Akademisi-Universitas-Sam-Ratulangi-Manado.jpg)