Minut Sulawesi Utara

Pertambangan di Minut Sulawesi Utara Jadi Lokasi Penerapan Praktik Ramah Lingkungan Tanpa Merkuri

Mendukung komitmen pemerintah Indonesia untuk penghapusan penggunaan merkuri di lokasi Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK).

Penulis: Fistel Mukuan | Editor: Chintya Rantung
fistel mukuan/tribun manado
Tim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan United Nations Development Program saat penyampaian materi. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Mendukung komitmen pemerintah Indonesia untuk penghapusan ,penggunaan merkuri di lokasi Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK).

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), menerapkan praktik ramah lingkungan tanpa merkuri di Kabupaten Minahasa Utara (Minut).

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bekerjasama dengan United Nations Development Program (UNDP) untuk penanganan penghapusan merkuri di pertambangan.

Pertambangan di Minut jadi percontohan PESK ramah lingkungan tanpa merkuri.

Hal itu disampaikan Direktur Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Yulia Suryanti, dalam media visit lokasi proyek GOLD-ISMIA di Novotel kota Manado, Kamis (15/12/2022).

Dikatakannya, melalui proyek GOLD-ISMIA juga ada di 6 lokasi proyek yaitu di Kulonprogo, Lombok Barat, Minahasa Utara, Halmahera selatan, Gorontalo Utara dan Kuantan Singingi telah menurunkan penggunaan merkuri sebanyak 23 ton.

"Sebagai penyumbang terbesar, Kabupaten Minut khususnya dari Desa Tatelu dan Desa Talawaan, dalam kurun waktu 4 tahun sejak 2019 sampai 2022, telah berhasil menurunkan 13,4 ton merkuri sampai 58 persen dari total pengurangan merkuri," tambahnya.

Lebih lanjut Yulia Suryanti katakan, keberhasilan lain juga terlihat dari peningkatan jumlah peralatan yang dibangun oleh penambang PESK berupa tong untuk mengolah emas tanpa merkuri.

"Pada tahun 2018 terdapat 30 ton, tahun 2019 menjadi 53 ton, tahun 2021 menjadi 70 dan tahun 2022 menjadi 81 ton," tuturnya.

"Keberhasilan ini bisa menjadi tempat belajar, bagi penambang dari lokasi proyek lainnya baik penambang dari daerah sekitar Minut ataupun antar penambang dari luar daerah," ucapnya lagi.

Disampaikannya, proyek GOLD ISMIA merupakan proyek bersama UNDP dan Pemerintah Indonesia, yaitu KLHK serta BPPT yang selanjutnya sekarang disebut BRIN atau Badan Research dan inovasi Nasional yang disponsori oleh Global Environment Facility (GEF) yang dimulai tahun 2018 dan akan berakhir di tahun 2023.

Yulia Suryanti menjelaskan pemerintah Indonesia telah melakukan langkah-langkah signifikan menuju penghapusan
merkuri dalam PES, termasuk penandatanganan Konvensi Minamata tentang Merkuri, ratifikasi Konvensi tersebut pada tahun 2017, dan selanjutnya disempurnakan dengan terbitnya Perpres 21 tahun 2009 tentang rencana aksi nasional (RAN) pengurangan dan penghapusan merkuri.

"Selama empat tahun terakhir UNDP telah bekerjasama dengan pemerinah Indonesia untuk secara sitematis membasmi penggunaan merkuri oleh penambang artisanal di enam provinsi di Indonesia, berkat dukungan dari Global Environment Facility," ungkap Yulia Suryanti.

Iapun menjelaskan, selama ini 54 kelompok penambang melalui koperasi telah mendapatkan dukungan proses perizinan, mendapatkan akses pembiayaan dan alih teknologi untuk menerapkan pengolahan emas tanpa merkuri yang lebih ramah lingkungan serta berbagai pelatihan dan penyadartahuan untuk peningkatan kapasitas bagi hampir 3000 orang penambang dan juga pemerintah daerah.

Halaman
12
Sumber: Tribun Manado
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved