Renungan Harian

Renungan Harian, 2 Tawarikh 15:7, Mengekspresikan dengan Cara Benar

Renungan Harian Kristen hari ini mengenai mengekspresikan dengan cara benar yang terdapat dalam 2 Tawarikh 15:7.

Editor: Tirza Ponto
Tribun Manado/Indra Sudrajat
Renungan Harian, 2 Tawarikh 15:7, Mengekspresikan dengan Cara Benar 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Renungan Harian Kristen hari ini mengenai mengekspresikan dengan cara benar yang terdapat dalam 2 Tawarikh 15:7

“Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!"

Tribunners,

Alkitab mencatat, tidak ada perang sampai pada tahun ketiga puluh lima pemerintahan raja Asa (ayat 19).  

Ini terjadi karena raja Asa mengadakan pembaharuan atas bangsa Yehuda. Ketika suara Tuhan disampaikan kepadanya melalui Azarya bin Oded yang dihinggapi Roh (ayat 1), raja Asa bukan saja percaya akan Firman Tuhan itu, tetapi ia mampu mengekspresikannya dengan benar. 

Dalam kekacauan dan kesesakan akibat terlalu lama bangsa Israel tidak hidup dalam ajaran yang benar, raja Asa mengajak segenap bangsanya untuk berbalik kepada TUHAN, mencari wajahNya, menyingkirkan semua dewa-dewa kejijikan di seluruh kota, dan membaharui mezbah TUHAN. 

Pelajaran dari kisah ini penting untuk kita mengerti. Cara kita meresponi, menyikapi, atau mengekspresikan kebenaran FirmanNya dengan benar, akan membuat kita memperoleh kedamaian dan ketenteraman di masa yang akan datang.

Setiap Firman yang kita terima, seharusnya membuat hati dan semangat kita kuat. Jika kita kuat, kita akan menerima upahnya. Sebaliknya, jika kita lemah, kita tidak akan menerima upahnya.  

Saudara yang terkasih, masih banyak orang percaya yang salah dalam mengekspresikan FirmanNya. 

Mereka mendengar tetapi tidak percaya, seolah-olah Firman Tuhan itu tidak punya kuasa untuk mengubah hidupnya. Contoh, ketika masalah ekonomi atau kekurangan dialami, mereka menjadi kuatir, padahal FirmanNya dalam Matius 6:25-34 sudah mengajarkannya. 

Fokus mereka lebih tertuju kepada persoalan daripada percaya FirmanNya; sehingga cara mereka berekspresi juga salah. Mereka lebih suka mengeluarkan pernyataan putus asa, bersungut-sungut, dan kecewa kepada Tuhan, daripada datang ke kaki Tuhan untuk bersyukur dan minta kekuatanNya. Akibatnya, kondisi mereka tidak bisa membaik, bahkan menjadi lebih buruk dari sebelumnya, bagaikan alami peperangan yang tak ada hentinya. 

Kita harus belajar dari raja Asa, di tengah kesesakan dan kekacauan, ia membangkitkan kekuatan dan semangat dalam hati (kepercayaan yang penuh kepada Tuhan); menyingkirkan “dewa-dewa kejijikan” dan memperbaharui mezbah TUHAN.  

Apakah maksud dari menyingkirkan “dewa-dewa kejijikan” bagi kita? Yaitu : menyingkirkan sikap putus asa, bersungut-sungut, kecewa, menyalahkan Tuhan, tidak sabar, memberontak/melawan Tuhan, dsb. Lalu, perbaikilah mezbah doa/penyembahan kita. 

Jika kita mampu melakukan pembaharuan ini, percayalah ada banyak tahun yang akan kita jalani tanpa peperangan apapun. Inilah upah yang Tuhan berikan kepada mereka yang mau mengekspresikan FirmanNya dengan cara yang benar. 

Haleluya. Tuhan Yesus memberkati.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved