Piala Dunia 2022
Profil Saprudin Bastomi, Petani Indonesia yang Ikut Sukseskan Gelaran Piala Dunia 2022 Qatar
Setelah 3 tahun bekerja di Qatar sebagai Landscape Engineer kemudian ia dipromosikan sebagai Landscape Site Manager untuk Aspire Park.
Laporan Eksklusif Wartawan Tribunnews, Eko Priyono di Qatar
TRIBUNMANADO.CO.ID - Berikut ini profil Saprudin Bastomi.
Saprudin Bastomi merupakan seorang Petani asal Indonesia yg merawat dan membangun taman serta stadion internasional untuk Piala Dunia 2022.
“Semoga kedepannya anak-anak petani Indonesia tidak perlu minder dan ragu untuk berkiprah di dunia pertanian baik di dalam negeri maupun di mancanegara dengan mengikuti standar operasional dan manajemen internasional tertinggi di dunia seperti perawatan dan pembangunan stadion lapangan sepak bola untuk Piala Dunia FIFA 2022" begitu Ucapnya.
Saprudin Bastomi, asli Indramayu yang jaraknya 4 jam perjalanan dengan bus dari Jakarta.
Baca juga: Ramalan Zodiak Cinta Besok Minggu 20 November 2022, Aries Move On, Gemini Sabar dan Murah Hati
Saprudin Bastomi termasuk orang yang dibesarkan dalam keluarga petani.
Pada waktu duduk di sekolah dasar Saprudin Bastomi sering membantu orang tuanya memanen padi, memanen jeruk atau mencari rumput untuk pakan kambing.
Saya menghabiskan waktu SMP dan SMA di Indramayu dan kemudian kuliah di Yogyakarta tepatnya di Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada Jurusan Ilmu Tanah.
Kenapa saya mengambil jurusan Ilmu Tanah, itu ada sejarahnya tersendiri.
Ceritanya dulu pada waktu SD sekitar tahun 1988-an di desanya Segeran, yang terkenal penghasil jeruk telah mengalami kerugian karena jeruk di daerah tersebut banyak yang mati.
Para petani beranggapan bahwa jeruk mati disebabkan oleh aktivitas Pertamina yang pada waktu itu mencari (eksplorasi) sumber minyak bumi di sekitar desa saya, yang dianggap telah mencemari atau merusak tanah sehingga tidak subur lagi dan menyebabkan jeruk mati.
Dengan dilatarbelakangi oleh hal tersebut saya tertarik untuk mencari jawabannya dengan kuliah di fakultas pertanian dan mengambil jurusan ilmu tanah.
Tetapi setelah mendalami ilmu tanah di fakultas pertanian tersebut ternyata penyebab jeruk mati pada waktu itu ditengarai oleh serangan bakteri pada jeruk yang biasa disebut penyakit CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration) bukan oleh kegiatan eksplorasi Pertamina.
Setelah selesai kuliah pada tahun 2001 saya bekerja di pabrik jamur champignon (Agaricus bisporus) sebagai Kaur Quality Assurance dan R&D yang berlokasi di Paguyangan, Bumiayu daerah Brebes selatan di kaki gunung Selamet.