Tajuk Tamu
Tajuk Tamu, Moh. Ridho: Sepakbola Adalah Kita
Sepakbola Indonesia dalam dekade terakhir lebih akrab terdengar dengan kabar duka, pengaturan skor, carut marutnya kompetisi
Penulis: Fernando_Lumowa | Editor: Chintya Rantung
Oleh:
Moh. Ridho, Pemerhati Sepakbola Indonesia
TRIBUNMANADO.CO.ID - Sepakbola Indonesia dalam dekade terakhir lebih akrab terdengar dengan kabar duka, pengaturan skor, carut marutnya kompetisi, kerusuhan antar supporter bahkan hingga jatuhnya korban jiwa daripada hingar bingarnya kabar prestasi sepakbola Indonesia di Nasional dan Internasional.
Bukannya tidak adanya upaya untuk memperbaiki, namun upaya-upaya tersebut belum sepenuhnya bisa didukung dan diterapkan oleh setiap stakeholders sepakbola.
Sabtu 1 Oktober 2022 malam, peristiwa terburuk dialami Sepakbola Indonesia.
Bahkan peristiwa terburuk yang mencoreng dunia sepakbola internasional kembali terulang.
Setelah kurang lebih setengah abad lalu pernah terjadi dengan jatuhnya korban jiwa 328 orang meninggal dunia di Estadio Nacional, Lima Peru dalam pertandingan sepakbola Peru vs Argentina.
Bisa dipastikan Peristiwa Kanjuruhan dengan jumlah korban mendekati angka itu.
Sejauh ini data menyebut, korban meninggal dunia 131 orang dan luka-luka 500-an orang.
Bukan prestasi yang didapat, malah peristiwa yang mencoreng dan memukul wajah sepakbola nasional.
Sudahlah, tidak perlu mencari salah atau pembenaran, berdebat pasca peristiwa tersebut.Toh, tidak akan mengubah keadaan.
Sudah saatnya untuk mengevaluasi secara revolusioner untuk perbaikan-perbaikan agar tidak terulang kembali.
Nyawa satupun manusia tidak bisa diganti dengan apapun!.
Sistem kompetisi Liga Indonesia dalam hal keamanan masih menjadi prioritas nomor sekian.
Banyak poin-poin yang masih terkesan permisif, salah contohnya jalur evakuasi yang tidak semua stadion di Indonesia mempunyai.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/pemerhati-sepakbola-indonesia-muh-ridhofjmm.jpg)