Berita Sulut

Jual Molen Rp 500, Rahmat Bisa Bangun Dua Rumah dan Buka Lapangan Kerja

Saat itu dirinya belajar selama dua bulan untuk membuat adonan, sehingga menjadi kue molen yang lezat untuk dinikmati

Editor: David_Kusuma
DOK Pribadi
Rahmat Jual Molen Mini 

TRIBUNMANADO.CO.ID - DALAM sebuah puisi yang berjudul “Pemberian Tahu” Pelopor pujangga Angkatan 45 Chairil Anwar dalam bait pertama lirik kesatu dan dua berbunyi:

Bukan maksudku mau berbagi nasib.
Nasib adalah kesunyian masing-masing....

Dalam lirik tersebut sang penyair begitu berhasil menyampaikan kepada pembacanya mengenai nasib. Dalam pengertian nasib seseorang harus dijalani oleh orang tersebut tanpa bisa dibagi dengan yang lain. Begitu pula untuk mengubahnya harus dilakukan oleh orang tersebut. Dengan demikian bisa dikatakan nasib seseorang kedepannya tidak ada yang tahu.

Itulah yang dilakukan oleh Rahmat Santoso (49) warga Airmadidi keputusan untuk berhenti dari pegawai honorer di satu di antara kementerian setelah tahunan bekerja, merupakan keputusan yang tepat untuk mengubah nasibnya menjadi lebih baik.

Baca juga: Demokrat Klaim Hasil Survei Anies-AHY Unggul, Diperbincangkan Bersama Koalisi NasDem dan PKS

“Dulu saya menjadi pegawai honorer, kemudian saya putuskan untuk berhenti,” katanya saat ditemui satu di antara tenantnya di Alfamart Ir Soekarno Airmadidi.

Lebih lanjut Rahmat menceritakan setelah keputusannya untuk berhenti menjadi pegawai honorer, dia kemudian banting stir menjadi kontraktor rumah.

Hal ini dilakukan untuk melanjutkan kehidupan, memberi nafkah kepada keluaga, yang merupakan tanggung jawabnya. Pada saat itu, kebetulan rumah yang akan dibangunnya berada di Manado.

Pada saat itu, dia amati sekitar Universitas Klabat (Unklab) begitu ramai cocok untuk membuka usaha. Pada saat itu dirinya kemudian belajar kepada satu di antara saudaranya yang berada di Bitung yang telah terlebih dahulu membuka usaha, yaitu jualan molen mini Rp 500.

Saat itu dirinya belajar selama dua bulan untuk membuat adonan, sehingga menjadi kue molen yang lezat untuk dinikmati. Saat dirasa sudah mampu membuat adonan, akhirnya dirinya membuka usaha sendiri, yaitu di depan Unklab, Airmadidi.

“Awalnya menggunakan gerobak, di depan Unklab. Pada 2016 lalu,” ujarnya.

Pria asal Sragen ini merasa bersyukur, karena pada awal membuka usaha sambutan dari masyarakat cukup bagus. Molen mini yang dijualnya Rp 500 selalu habis terjual. Pundi-pundi rupiah pun didapatnya.

Baca juga: PT Pegadaian Cabang Molinow Gelar Visit Oleh Mahasiswa Sekaligus Literasi Program Gatron

"Pembeli terus berdatangan karena bentuknya yang mini, serta tentu saja rasanya yang lezat," katanya.

Setelah kondisi usahanya telah stabil, barulah kemudian dia memboyong keluarganya untuk ke Manado.

Usahanya dari tahun ke tahun terus berkembang, hingga saat ini memiliki 10 tenant yang tersebar di beberapa gerai Alfamart dan tempat lainnya.

Dia bersyukur dari berjualan molen mini Rp 500 berhasil menyekolahkan anak, membeli 2 rumah, 3 kapling dan membuka lapangan pekerjaan. "Saya bersyukur dengan hasil saat ini," ungkapnya.

Untuk meningkatkan penjualan dirinya juga menyediakan gorengan lainnya seperti tahu dan tempe. "Dua jenis gorengan tersebut hanya sebagai pelengkap saja, yang utamanya molen," katanya.

Sumber: Tribun Manado
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved