Manado Sulawesi Utara
Terkait Kasus Pencurian Pecah Kaca di Manado Sulawesi Utara, Polisi Masih Lakukan Penyidikan
Terkait Kasus Pencurian Pecah Kaca di Manado Sulawesi Utara, Polisi Masih Lakukan Penyidikan
Penulis: Nielton Durado | Editor: Rizali Posumah
Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Polresta Manado masih melakukan pendalaman terkait kasus pencurian pecah kaca yang kembali terjadi di Manado, Sulawesi Utara.
Hal ini dikatakan oleh Kapolresta Manado Kombes Julianto P Sirait.
Kepada Tribunmanado.co.id, Selasa 27 September 2022 Julianto Sirait mengatakan jika pihaknya sudah melakukan penyidikan kasus ini.
"Tim sedang melakukan penyidikan. Tapi untuk perkembangan lebih dalam masih kami rahasiakan," ujarnya.
Julianto Sirait menegaskan jika kasus ini sudah jadi atensi pihaknya.
Ia juga sudah menginstruksikan agar semua tim lapangan mencari informasi tentang para pelaku.
"Semua tim di lapangan sedang bekerja. Jadi kami harap masyarakat bisa lebih bersabar," tegasnya.
Sebelumnya diketahui, Dua unit kendaraan dibobol saat acara syukuran kembalinya Miss Indonesia Audrey Vanessa ke Sulawesi Utara (Sulut) di Restoran Nelayan, Desa Kalasey, Kecamatan Mandolang, Minahasa.
Kejadian pembobolan dengan modus pecah kaca itu menimpa mobil Toyota Calya DB milik presenter Richard Richie Pormouw (34) dan mobil Mitsubishi Expander milik Richard Fanny Wijaya Oey (37).
Menurut keterangan kedua korban saat melaporkan kejadian itu ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polresta Manado, mobil diparkir di pinggir jalan tapi agak jauh dari rumah makan.
"Parkiran depan dan pinggiran rumah makan sudah full, jadi mobil kami terpaksa diparkir di seberang jalan," ujar keduanya saat ditemui Tribunmanado.co.id, Sabtu 24 September 2022.
Tapi setelah acara usai dan akan kembali ke mobil untuk pulang, kaca depan samping pintu kiri dua mobil tersebut dalam keadaan pecah berlobang.
Sementara beberapa barang berharga di dalam sudah raib.
Richard Fanny Wijaya kehilangan handphone Nokia dan tas warna coklat yang berisikan dokumen import perusahaan serta dua kartu ATM BCA, dengan total kerugian diperkirakan 2 juta US dolar.
"Tidak ada uang yang hilang, tapi dokumen impor yang hilang merupakan transaksi perusahaan," ujar Fanny Wijaya.