Selasa, 5 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

5 Tanda Masa Kecil yang Kurang Bahagia dan Akibatnya Saat Dewasa

Menjadi dewasa adalah idaman saat masa kecil, namun ternyata tak semua orang dewasa menyukai masa dimana ketika mereka telah dewasa.

Tayang:
Editor: Erlina Langi
Pixabay.com
5 Tanda Masa Kecil yang Kurang Bahagia dan Akibatnya Saat Dewasa 

TRIBUNMANADO.CO.ID - 5 tanda masa kecil yang kurang bahagia dan akibatnya saat dewasa

Menjadi dewasa adalah idaman saat masa kecil

Namun ternyata tak semua orang dewasa menyukai masa dimana ketika mereka telah dewasa

Kebanyakan orang dewasa merindukan masa-masa kecilnya yang terus disayang dan tanpa beban kehidupan

Namun bagaimana bila masa kecilnya kurang bahagia?

Ternyata masa kecil yang kurang bahagia bisa memberi pengaruh buruk dalam jati diri sesorang yang berdampa hingga ia dewasa nanati.

Pengalaman-pengalaman yang dialami saat masa kecil memberi pengaruh yang akan terbawa hingga dewasa kelak

Tanda Masa Kecil yang Kurang Bahagia dan Akibatnya Saat Dewasa
5 Tanda Masa Kecil yang Kurang Bahagia dan Akibatnya Saat Dewasa

Baca juga: Siapa Sangka, Menjadi Workaholic adalah Tanda-tanda Kelainan Jiwa. Apakah Anda Salah Satunya ?

Annie Wright, LMFT, psikoterapis di Berkeley, Amerika Serikat mengatakan tidak ada daftar tertentu yang bisa menjadikan masa kecil kita tidak bahagia, dalam artian negatif.

Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan, termasuk cara kita mengenang pengalaman ketika kanak-kanak itu.

Namun ia mengatakan, ada lima ciri yang menandakan bahwa masa kecil kita tidak bahagia dan berdampak negatif pada kehidupan saat ini.

Berikut ulasannya,

Suasana hati dan emosi yang tidak stabil

Suasana hati dan emosi yang cenderung tidak stabil dan amat dipengaruhi faktor eksternal, menandakan masa kecil yang kurang bahagia.

"Ketika Anda dianggap baik dan diperlakukan dengan baik, harga diri Anda melonjak. Ketika Anda diperlakukan atau dianggap buruk, kepercayaan diri Anda merosot," kata Wright, yang juga pakar penyembuhan trauma hubungan.

Orang yang tahun-tahun awal hidupnya tergolong buruk tidak jarang memiliki tantangan dengan pengaturan dan keseimbangan emosional.

Sulit mempertahankan hubungan yang baik

Ada kalanya kita merasa begitu tidak beruntung dan selalu gagal memiliki hubungan yang baik.

Contohnya, terjebak dalam toxic relationship, selalu bertengkar dengan pasangan, dan merasa pasangan yang ideal diambil orang lain.

Kita juga merasa memiliki atasan "kejam" di kantor yang mengingatkan kita pada perilaku  buruk orangtua.

Hal ini, menurut Wright, adalah ciri khas masa kecil buruk yang tidak kita sadari.

Bukan hal yang aneh bagi mereka yang tumbuh di rumah yang disfungsional, kacau, lalai, atau kasar untuk menghadapi tantangan mencari dan menjaga hubungan yang sehat dan fungsional.

Selalu merasa insecure

Tanda Masa Kecil yang Kurang Bahagia dan Akibatnya Saat Dewasa1
5 Tanda Masa Kecil yang Kurang Bahagia dan Akibatnya Saat Dewasa

Baca juga: 5 Zodiak Paling Julid yang Pernah Ada, Sebaiknya Jangan Terlalu Dekat Dengan Mereka

Masa kecil yang tidak bahagia membuat kita memiliki harga diri yang rendah, persepsi diri yang terganggu, dan selalu insecure.

Ada perasaan jika kita tidak siap dan sedang menjalani kehidupan yang palsu.

Kita takut ada orang yang benar-benar mengenal diri kita dan masa lalu kita maka mereka akan melarikan diri.

Kita hanya berpura-pura percaya diri sambil terus merasa khawatir akan diremehkan dan direndahkan orang lain.

Merasa perlu melarikan diri

Kita mendapatkan dampak negatif dari masa kecil jika kerap merasa kewalahan dengan hidup dan ingin melarikan diri saja.

Kita berusaha melarikan diri dari kebosanan, stres, kewalahan, ketegangan, dan rasa sakit emosional dari kehidupan sehari-hari.

Caranya bisa melalui tindakan atau zat yang berulang, terkadang secara kompulsif, apapun metodenya.

"Anda menemukan diri Anda menghitung jam sampai Anda bisa melarikan diri, keluar dari zona, bersantai, menghilang," jelas Wright.

Tidak paham dengan hal yang "normal"

Tidak ada hal yang benar-benar normal karena seluruh hal dipengaruhi oleh banyak aspek.

Namun ada semacam "normal" yang kaitannya dengan sesuatu yang berjalan sehat dan fungsional.

Orang dengan masa kecil tidak bahagia dan latar belakang trauma relasional seringkali gagal memahami "normal" seperti itu.

Mereka tidak paham jika hubungan dan kehidupan yang dijalani sebenarnya tidak sehat dan disfungsional karena ketidaktahuan itu.

"Seringkali dalam pekerjaan pemulihan trauma relasional, kami membongkar semua keyakinan maladaptif yang diinternalisasi sejak masa kanak-kanak dan melihat lebih dekat apa sebenarnya "normal" itu," kata Wright. 

Orang seperti ini perlu mengembangkan keyakinan yang lebih fungsional dan adaptif, tentang diri mereka sendiri, orang lain, dan kehidupannya.

Telah terbit di Kompas.com

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved