Terkini Nasional

Ternyata BPK Kesulitan Periksa Keuangan Lukas Enembe, Penyebabnya Terungkap

Ternyata selama ini BPK mengalami kesulitan untuk memeriksa keuangan Gubernur Papua Lukas Enembe.

Editor: Ventrico Nonutu
Dok. Dian Mustikawati/papuainside.com
Lukas Enembe. Gubernur Papua Lukas Enembe kini ditetapkan jadi tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). 

TRIBUNMANADO.CO.IDGubernur Papua Lukas Enembe kini ditetapkan jadi tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Keuangan Gubernur Papua Lukas Enembe pun menjadi sasaran untuk diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Namun ternyata selama ini BPK mengalami kesulitan untuk memeriksa keuangan Gubernur Papua Lukas Enembe.

Baca juga: Jadwal Pertandingan Timnas Argentina, Lionel Messi dkk akan Hadapi 2 Tim Ini Jelang Piala Dunia 2022

Baca juga: Daftar 5 Besar Top Skor Piala Dunia Sepanjang Masa, Tak Ada Nama Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi

Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD.

Belakangan, Lukas Enembe ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"BPK selama ini tidak berhasil melakukan pemeriksaan karena selalu tidak bisa diperiksa," kata Mahfud dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin (19/9/2022).

Sulitnya pemeriksaan, kata Mahfud yang juga mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, BPK hampir selalu memberikan opini tidak menyatakan pendapat atau disclaimer terhadap keuangan pemerintah Provinsi Papua.

Kendati begitu, dugaan kasus korupsi yang melibatkan Lukas Enembe terus diusut.

"BPK lebih banyak disclaimer atas kasus keuangan di Papua. Oleh sebab itu lalu bukti-bukti hukum mencari jalannya sendiri dan ditemukanlah kasus-kasus tersebut," ucap Mahfud.

Mahfud pun mengungkap, kasus yang menyeret Lukas Enembe bukan hanya dugaan gratifikasi Rp 1 miliar.

Ada beberapa kasus lainnya yang kini masih terus didalami, yakni terkait dengan dana operasional pimpinan, dana pengelolaan Pekan Olahraga Nasional (PON), hingga pencucian uang.

Merujuk laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), kata Mahfud, ada 12 temuan penyimpanan dan pengelolaan uang yang tidak wajar oleh Lukas yang angkanya mencapai ratusan miliar rupiah.

Dari 12 temuan, satu di antaranya berupa dugaan transaksi setoran tunai ke kasino judi senilai Rp 560 miliar.

Lukas diduga terlibat aktivitas judi di dua negara berbeda. PPATK juga menemukan setoran tunai Lukas dalam jangka waktu pendek dengan nilai fantastis mencapai Rp 5 juta Dollar Singapura.

Halaman
12
Sumber: Tribun Papua
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved