Bursa Capres

Pengamat Contohkan Beberapa Nama tak Populer jadi Capres Alternatif, Sebut Ilham Habibie

Adanya kejenuhan di publik terkait nama-nama yang muncul selama ini, maka mulai muncul wacana calon presiden

Editor: Aswin_Lumintang
Jeirry Sumampow
Pengamat politik Jeirry Sumampow 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Adanya kejenuhan di publik terkait nama-nama yang muncul selama ini, maka mulai muncul wacana calon presiden (Capres) alternatif untuk pemilu 2024.

Seperti diketahui selama ini muncul figur nominasi Capres dari kalangan kepala daerah, politisi dan kalangan militer yang terus didorong maju di Pilpres 2024.

Baca juga: BBM Naik, Sejumlah Pedagang di Pasar Gengulang Kotamobagu Sulawesi Utara Naikkan Harga Bahan Pokok

Sedangkan masyarakat membutuhkan figur baru yang teruji dan bisa menyelesaikan persoalan bangsa.  

Terkait hal ini Direktur Eksekutif Lembaga Riset dan Konsultasi Publik Algoritma Aditya Perdana mengatakan, masyarakat sejatinya tak sepenuhnya yakin dengan calon presiden yang populer saat ini, di mana mereka selalu menghiasi seluruh media di tanah air.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir. (Tribun Jabar/Teuku Muh Guci S)

Dari survei yang dilakukan Algoritma, meskipun beberapa bakal capres tersebut memiliki kesukaan dan elektabilitas tinggi, masyarakat belum yakin para bakal calon presiden Indonesia itu mampu mengatasi persoalan bangsa dan negara yang saat ini tengah dihadapi.

“Di situlah kami punya keyakinan bahwa masih ada peluang bagi para capres lain yang sebenernya mau mengatasi problem yang kita hadapi, seperti polarisasi masyarakat, pemberantasan korupsi, hukum, pemulihan ekonomi, kalau itu semua bisa dipenuhi, curilah ruang itu,” kata Aditya dalam diskusi Capres Alternatif: Menuju Subtansialitas Pilpres 2024, Selasa (6/9/2022).

Menurutnya, masih ada ruang bagi para capres alternatif untuk muncul dan mengambil peran dan menjawab kegelisahan responden di atas serta peluang mengkapitalisasi kemampuan dan kapasitasnya sebagai capres. 

"Maka saya berpikir seharusnya para capres alternatif ini perlu membuat skenario yang komprehensif dan sistematis untuk menantang calon yang ada sehingga dampaknya dapat dimonitor dengan baik. Tentu tantangannya tidak mudah, tapi perlu ada gerakan perlawanan," terangnya. 

Sementara itu Koordinator Komite Pemilih (Tepi Indonesia), Jeirry Sumampow mengemukakan bahwa masyarakat sudah mengenal calon-calon presiden yang saat ini tinggi elektabilitasnya sejak 5 tahun silam. Maka, tokoh-tokoh tersebut sama seperti yang terjadi pada Pemilu 2019 lalu dan tidak ada perbedaan signifikan.

Ilham Habibie
Ilham Habibie (Tribun Kaltim)

 
“Itu tentu memperlihatkan ada kebosanan publik. Problemnya begini, media terlalu mempopulerkan nama tokoh, jadi publik ke arah sana, dan seolah-olah tak punya pilihan lain. Membuat figur-figur ini populer, dan populernya ini berpengaruh pada elektabilitasnya,” ujarnya.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved