Sitaro Sulawesi Utara

Petani Kopra di Sitaro Sulawesi Utara Berharap Harga Jual Kopra Tidak Anjlok

Harga komoditi Kopra di Kabupaten Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) kembali mengalami penurunan.

Penulis: Octavian Hermanses | Editor: Chintya Rantung
Ist
Harga kopra di Sitaro kembali mengalami penurunan 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Harga komoditi Kopra di Kabupaten Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) kembali mengalami penurunan.

Sebelumnya, harga jual dari kalangan petani ke pedagang pengumpul dibandrol dengan Rp 10.500 per kilogram, kini turun menjadi Rp 7.500 per kilogram.

Trend penurunan harga kopra ini telah berlangsung beberapa bulan terakhir ini setelah sebelumnya pernah menyentuh angka Rp 13.000 per kilogram.

Kondisi ini pun disesalkan para petani kopra maupun kalangan pedagang pengumpul yang menggeluti usaha jual beli salah satu komoditi andalah Sulawesi Utara itu.

"Memang penurunan harga jual ini cukup disesalkan. Padahal beberapa bulan lalu harganya sudah sangat bagus," kataSem Sihure, salah satu Petani Kopra asal Kelurahan Tatahadeng Kecamatan Siau Timur.

Meski di tengah menurunya harga jual Kopra, namun Sem mengaku tetap menggeluti pekerjaannya sebagai petani untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

"Mau bagaimana lagi. Biar harganya turun, kami harus tetap bekerja sebagai petani untuk kebutuhan sehari-hari," lanjutnya.

Tingginya tingkat kesulitan saat panen Buah Kelapa menjadi tantangan tersendiri di kalangan petani Kopra.

Untuk itu, mereka berharap agar harga jual Kopra di pasaran tidak lagi mengalami penurunan signifikan yang bisa berdampak pada pendapatan saat waktu panen.

Selaku petani kami berharap agar harga komoditi kopra tidak turun jauh, karena dampaknya sangat besar bagi kami petani kopra," harap Sem.

Jopry Lahengke, salah satu pedagang pengumpul Kopra di Sitaro turut menyesalkan turunnya harga jual Kopra di pasaran.

Namun demikian, dirinya mengaku prospek usaha jual beli Kopra di Kabupaten Sitaro masih cukup menjanjikan sehingga ia memilih tetap bertahan menggeluti usahannya.

"Bicara harga memang masih naik turun, tidak normal. Tapi masih bolehlah untuk usaha ini," beber Lahengke saat diwawancarai wartawan, Kamis (11/8/2022).

Sebagai pendatang baru dalam dunia usaha jual beli Kopra, ia menggunakan skema jemput bola atau mendatangi para petani Buah Kelapa di kampung-kampung.

"Memang kami juga ada langganan tetap. Tapi ada juga petani yang menghubungi kami. Ketika harga sudah cocok, kami jemput langsung," ujarnya. (HER)

Baca juga: Kombes Raymond Masengi Pimpin Pasukan Perdamaian Indonesia Raih Penghargaan Tertinggi PBB

Baca juga: Pengacara Brigadir J tak Bantah Motif Pembunuhan Sensitif dan Hanya Bisa Didengar Kalangan Dewasa

 

Sumber: Tribun Manado
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved