Minggu, 19 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

BACAAN ALKITAB

MTPJ 7- 13 Agustus 2022 - Bilangan 9 : 15 – 23 “Berjalan Menurut Titah Tuhan”

Dunia berubah begitu cepat sejalan dengan kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Perubahan-perubahan sebagai dampak kemajuan

Editor: Aswin_Lumintang
Istimewa
Renungan Harian Kristen 

Tema Bulanan : “Merajut Spiritualitas Bergereja, Berbangsa dan Bernegara”
Tema Mingguan : “Berjalan Menurut Titah Tuhan”
Bacaan Alkitab: Bilangan 9 : 15 – 23

ALASAN PEMILIHAN TEMA
TRIBUNMANADO.CO.ID - Dunia berubah begitu cepat sejalan dengan kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Perubahanperubahan sebagai dampak kemajuan itu nampak dalam peradaban manusia dengan gaya hidup yang sangat bergantung pada produk teknologi.

Manusia ingin mendapatkan apa yang ia inginkan dengan cara mudah dan gampang. Produk teknologi menyediakannya. Dengan kata lain manusia masa kini cenderung mendapatkan sesuatu dengan cara mudah, instan, dan cepat.

Ilustrasi renungan
Ilustrasi renungan (internet)

Misalnya, untuk berbelanja: makanan, minuman, pakaian, kebutuhan sandang, pangan, dan transaksi lainnya dapat dilakukan dari rumah. Tanpa harus buang waktu dan tenaga pergi ke pasar atau ke toko atau ke bank. Cukup pesan online, asalkan ada saldo bank dan aplikasi yang diperlukan di handphone. Demikian kebutuhan informasi dapat dengan mudah diakses.

Apakah berkaitan dengan pendidikan, ekonomi, kesehatan, entertain (hiburan) dan apa saja yang dibutuhkan dapat dengan mudah dipelajari melalui internet.

Syaratnya cukup memiliki handphone android dan paket data maka semua informasi yang diinginkan akan dengan mudah didapatkan. Termasuk informasi yang negatif.

Teknologi memberi kemudahan-kemudahan, namun di sisi lain memberi tantangan baru bagi pendidikan mental, moral, karakter dan spiritual. Baik kepada generasi muda maupun generasi tua. Tawaran gaya hidup modern dapat mengguncang iman dan perilaku hidup manusia termasuk orang percaya.

Manusia cenderung menghalalkan segala cara asalkan mendapatkan uang dan mendapatkan apa yang ia inginkan. Oleh karena itu orang percaya harus memiliki dasar berpijak yang kuat agar mampu mempertahankan integritas ketika menghadapi tawaran-tawaran seperti: godaan hedonisme, konsumerisme tanpa batas, gaya hidup bebas, berhala-berhala baru dan kesenangan-kesenangan hidup duniawi yang dapat mencelakakan dan membinasakan.

Gereja dan pemerintah, orang tua dan semua pihak mempunyai tugas dan tanggungjawab menyiapkan ketahanan moral, etik dan spiritual menghadapi zaman ini. Orang percaya diperhadapkan pada pilihan, memilih berjalan menurut titah Tuhan atau memilih jalan menuruti kehendaknya sendiri. Oleh karena itu perenungan warga GMIM diminggu yang berjalan dipilih tema: “Berjalan Menurut Titah Tuhan”.

Melalui tema ini, gereja secara institusi dan orang-orang percaya di dalamnya dituntun untuk belajar dan mengerti tentang apa yang dititahkan Tuhan dan bagaimana menaati apa yang dititahkan-Nya dalam mengarungi perjalanan hidup yang dianugerahkan Tuhan.

PEMBAHASAN TEMATIS
■ Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)
Kitab Bilangan adalah bagian dari kitab Pentateuk atau kitab Taurat. Dalam bahasa Ibrani kitab Bilangan disebut Bemidbar yang artinya “daerah liar”.

Kitab Bemidbar dalam siklus tahunan pembacaan Taurat di kalangan Yahudi mendapat giliran dibaca pada bagian ke-34 dalam bacaan mingguan. Sedangkan kata Bilangan terjemahan dari Septuaginta atau Yunani Perjanjian Lama disebut numeri berkaitan dengan cacah jiwa bangsa Yahudi.

Sensus penduduk ini hanya mencatat pria lsrael yang berusia mulai dari berusia 20 tahun ke atas yang mampu berperang. Jadi tidak termasuk perempuan, anak-anak dan lansia. Sensus pertama dicatat pada tahun ke-2 setelah bangsa Israel keluar dari Mesir, sedangkan sensus kedua kali dilakukan sebelum bangsa Israel masuk tanah Kanaan (pasal 26).

Kitab Bilangan terdiri dari 36 pasal dan perikop Bilangan 9 : 15 – 23 bagian dari pasal-pasal terdahulu mengisahkan tentang perjalanan melintasi gurun ke Kadesy dan sekitarnya. Sejak keluar (exodus) dari Mesir, bangsa Israel dikenal sebagai bangsa nomaden, yakni bangsa yang berpindah-pindah tempat. Paling tidak selama 40 (empat puluh) tahun mereka mengembara di padang gurun. (Bilangan 32 : 13)

Kondisi ini mengharuskan mereka membuat kemahkemah untuk tempat tinggal sementara. Kemah yang dapat dibongkar pasang. Selain kemah-kemah umat, juga didirikan kemah yang disebut Kemah Suci atau kemah hukum Allah. Kemah Suci adalah kemah untuk tempat Tuhan hadir.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved