Human Interest Story
Kisah Anak Punk Manado Sulawesi Utara: Beri Beras pada Orang Miskin, hingga Diskusi Soal Politik
Ini cerita tentang Isak Saman, anak Punk Manado Sulawesi Utara. Saman menuturkan terkait kultur punk di Sulut.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Seorang Punkers asal Sulawesi Utara, Isak Saman, punya prestasi mentereng sebagai atlet dan pelatih ping pong.
Namun ia tetap bangga disebut anak Punk.
"Saya anak punk," kata dia kepada tribunmanado.co.id Senin (18/7/2022).
Isak kenal Punk sejak kelas 1 SMA. Kenalnya pun tak sengaja.
"Seorang rekan saya dari Manado mengajak kakak saya tapi ia berhalangan, kemudian saya ikut ke basenya dan melihat hidup para punk, saya tertarik," kata dia.
Awalnya ia tertarik hanya pada kulit luar Punk. Pada rambut mohawk. Kemudian filosofi Punk ia kecap.
Ia larut di dalamnya. Kian hari kian mantap.
"Ini tentang bagaimana kita berontak terhadap nilai-nilai," katanya.
Ia lantas menceritakan kultur Punk yang ada di Manado Sulawesi Utara.
Sebut dia, Punk tak ada bedanya dengan komunitas lain.
Mereka kerap berkumpul di Manado, bercakap cakap tentang politik, musik dan sastra, ataupun curhat curhatan.
"Kami kerap saling curhat tentang masalah masing-masing dan saling memberi jalan keluar," kata dia.
Sebut dia, Punk juga melakukan hal mulia. Semisal bagi beras bagi orang miskin.
"Kami buat konser dengan bayaran beras lantas berasnya diberikan pada orang miskin. Penerimanya kami saring baik-baik agar tidak salah sasaran," kata dia.
Ia tak memungkiri jika kaum punk kerap melakukan hal yang dipandang merusak. Contohnya miras.