Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Bolmong Sulawesi Utara

Penjabat Bupati Bolmong Sulawesi Utara Menangis, Limi Mokodompit Ceritakan Kisah Merantau ke Papua 

Momen hari raya idul adha 1443 hijriah, Minggu 10 Juli 2022, Penjabat Bupati Bolmong Ir Limi Mokodompit MM, ceritakan pengalamannya merantau.

Penulis: Sujarpin Dondo | Editor: Handhika Dawangi
Tribun Manado/Sujarpin Dondo
Penjabat Bupati Bolmong Ir Limi Mokodompit saat memberikan sambutan di Masjid Nurul Yakin desa Ibolian, Kecamatan Dumoga Tengah. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Momen hari raya idul adha 1443 hijriah, Minggu 10 Juli 2022, Penjabat Bupati Bolmong Ir Limi Mokodompit MM, ceritakan pengalamannya merantau.

Limi Mokodompit ungkap awal mula dirinya merantau ke Papua. 

Limi bercerita saat memberikan sambutan di Masjid Nurul Yakin, Desa Ibolian, Kecamatan Dumoga Tengah Bolmong Sulawesi Utara usai sholat idul adha bersama warga disana.

Dia mengungkapkan apa yang dia lakukan di usia 17 tahun. 

"Awal mula saya merantau saat berumur 17 tahun," ujar bupati. 

Saat itu, kata Limi, tekadnya begitu kuat untuk merantau. Dia mengawali perjalanannya itu dengan meminta surat jalan kepada pemerintah setempat.  

"Saat itu saya meminta sangadi atau kepala desa untuk membuatkan surat jalan agar bisa berangkat dan merantau ke Papua atau Irian Jaya saat itu," ucapnya.

Namun kata Limi, sangadi atau kepala desa tidak langsung membuatkannya.

Masih ada pertimbangan karena usia Limi waktu itu masih belia dan belum berpengalaman. 

"Saat itu saya lama menunggu persetujuan sangadi karena umur saya yang masih belia, namun meski begitu karena tekad yang bulat untuk merantau saya mendapatkan surat jalan tersebut," tambahnya.

Singkat cerita Limi juga menitipkan pesan bahwa jika ada yang bertanya katakan saya merantau hanya ke Gorontalo.

"Surat jalan tujuan Papua tapi saat ada yang bertanya saya menjawab bahwa merantau ke Gorontalo," ucap Limi.

Setahun di perantauan atau di Papua, Limi yang berbohong kepada ibunya mengatakan yang sebenarnya bahwa dirinya sebenarnya merantau ke Papua bukan ke Gorontalo.

"Saya mengatakan sebenarnya dengan memperlihatkan slip gaji yang saat itu berjumlah Rp 500 ribu," ucapnya.

Namun, karena kebohongan tersebut ibunya marah, bahkan sangadi yang memberikan izin perjalanan juga dimarahi.

"Ibu saya marah hingga jatuh sakit karena memikirkan saya yang ternyata merantau hingga ke Papua," ucapnya.

Meski begitu kemarahan ibunya perlahan menghilang namun sudah dalam kondisi sakit hingga dipanggil sang pencipta.

"Dari hal itu ibu saya marah dan membuatnya jatuh sakit, namun setelah mengetahui bahwa saya merantau juga perlahan amarah ibu saya berkurang dan hingga akhirnya dipanggil sang pencipta," ucap Limi sambil meneteskan air mata.

Kata Limi, hal ini dia ceritakan agar para generasi muda bisa mengikuti semangat dan keyakinan untuk menggapai cita-cita.

"Kisah saya sengaja diceritakan disini agar penerus kita atau anak-anak muda bisa mengikuti jejak dirinya, baik itu keyakinan, dan spiritnya," tandasnya. (*)

Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved